`
Menunggui anak Sakit di RS Ibu Zaenab Tertidur di Kamar Mayat 

Bagi warga Jember pasti pernah atau sekedar melewati RSUD Balung, dengan bangunanya yang cukup megah, tapi itu sekarang, dulunya RSUD Balung hanya sebuah Puskesmas dengan bangunan kuno. Bukan cuma model bangunaya yang memprihatinkan tapi dulu Puskesmas Balung juga terkenal akan keangkeranya.

Banyak pasisen dan keluarga pasien yang ikut menginap sering melihat hal-hal yang cukup seram, sering kereta dorong mayat berjalan sendiri, atau penampakan makhluk gaib yang kadang menghantui perwat disana juga.
Saah satu kisah yang cukup menakutkan dialamai oleh Ibu Zaenab
Biarpun asli orang Jember dari Kecil sampai tua Ibu Zaenab sekalipun belum pernah menginjakkan kaki di Puskesmas Balung, Jember. Wajar kalu dia tidak tahu ruangan-ruangan yang ada di tempat tersebut. Selama ini, kalau anak-anakku ada yang sakit, suamikulah yang mengantar mereka berobat. Itupun hanya penyakit ringan, yang sudah dapat disembuhkan dengan berobat jalan.

Ketika anak bungsu dia terkena muntaber dengan kondisi yang cukup parah, tubuhnya yang lemas, dengan wajah yang pucat pasi, Ibu Zaenab dan suami tanpa menunggu waktu lebih lama lagi membawa anaknya ke Puskesmas Balung,selaps Maghrib dia dan suami membawanya ke Puskesmas Balung, yang jaraknya hampir 20 Km. dari rumah. Karena saat itu masih belum ada angkutan umum yang mencari penumpang pada malam hari, maka dia meminta bantuan tetangga yang memiliki becak untuk mengantarkan kami ke Puskesmas Balung.

Begitu sampai di Puskesmas, dokter langsung menangani anak bungsunya, rupanya keadaan anaknya lumayan gawat. Karena kehabisan banyak cairan, dia harus diinfus, dan harus menjalani rawat inap.

Karena waktu berangkat tadi terburu-buru pintu rumah tidak sempat dikunci dan keadaan rumah juga masih cukup berantakan. inisiatif dari suami karena sudah malam, suami bu Zaenablah yang pulang kerumah, sedangkan bu Zaenab disuruh menunggu di Puskesmas.

Suami Bu Zaenab : "Si udin bune jaga sendiri saja dulu yah, Aku akan pulang untuk beres-beres rumah, dan menyelesaikan sisa pekerjaan. Besok pagi aku akan ke sini lagi," kata suami bu Zaenab.

Sepeninggal suami, Bu Zaenab lumayan lama berada di dalam ruangan rawat inap Udin anaknya, ruangan yang ditempati anakku, berukuran kecil. Ditempati dua ranjang dan dua lemari kecil. Ranjang yang satu ditempati anakku, sedang ranjang lainnya ditempati pasien yang lain sebaya udin, yang juga menderita muntaber. Berbeda dengan Udin yang aku jaga sendirian, pasien itu ditunggu kedua orang tua serta kakaknya.

Sambil nunguin anaknya, Buzaenab habiskan dengan bercakap-cakap bersama kedua orang tua pasien teman sekamar anakku. Cukup lama kami bertukar kata, membicarakan apa saja untuk membunuh sepi dan mengurangi rasa dingin. Sampai kedua orang itu mohon pamit untuk beristirahat. Menyusul anak sulungnya yang telah terbaring di lantai yang beralaskan tikar, juga mulai tertidur karena kantuk.

Aku (bu Zaenab) pun sendiri akhirnya keluar kamar, menikmati suasana sepi dan gelapnya malam. Karena genset yang menjadi sumber penerangan, menurut penjelasan salah seorang perawat mengalami kerusakan, maka keadaan Puskesmas itu menjadi gelap. Cahaya lampu tempel yang menghiasi setiap ruangan, tidak mampu melawan kegelapan. Sehingga suasana di sepanjang lorong puskesma tampak remang-remang, seperti di lorong kuburan.

Lumayan lama aku duduk di lantai sambil bersandar pada pilar di luar kamar. Sebenarnya, mataku sudah sangat mengantuk, dan tubuh minta direbahkan, tapi melihat lantai di dalam kamar penuh sesak dengan penjaga pasien lainnya, aku merasa risih untuk merebahkan tubuh, apalagi tidur berdesak-desakan dengan mereka.

Saat duduk terkantuk kantuk ibu Zaenab dikejutkan suara lembut yang menyapanaya "Ibu sedang menunggu anak ya?" sapa seorang pemuda tampan, yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku.
"iya..ii..iya!" Jawabku pendek dan sedikit agak gugup.
"mending ibu beristirahat di kamar sebelah sana. Kebetulan di sana ada ranjang yang kosong. Ibu bisa memakainya untuk tidur. Daripada duduk dilantai seperti sekarang ini, ibu bisa masuk angin. Jangan-jangan setelah anak ibu sembuh, ganti ibu yang jatuh sakit!" nasehat pemuda itu dengan penuh kekhawatiran. Aku menanggapinya dengan senyum kecil. Namun, dalam hati aku membenarkannya. "kalau Ibu mau Mari Saya antar ke kamar itu!" pemuda itu menawarkan jasanya.

Entah karena terbawa oleh rasa lelah dan kantuk yang teramat sangat, atau karena terpengaruh oleh suara pemuda itu yang lembut dan sopan, aku menerima tawarannya. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, kuikuti langkahnya menuju kamar di bagian paling belakang. Aku ikuti terus, sampai pemuda itu membuka pintu kamar dan memasukinya.
Ya, berbeda dengan kamar-kamar pasien lainnya, di kamar itu sama sekali tidak diberi penerangan lampu templok.

Hal ini membuat mataku untuk beberapa saat lamanya tidak bisa melihat. Baru setelah terbiasa dengan suasana gelap ruangan itu, aku dapat mengetahui keadaan kamar. Meskipun samar-samar, kulihat kamar itu sangat bersih dan terawat. Ukurannya juga lebih luas dari kamar-kamar pasien yang lain. Ada empat buah ranjang yang bederet sedemikian rupa, tanpa ada lemari kecil atau benda-benda lainnya. Keempat ranjang yang ada telihat kosong, tidak berpenghuni.

"monggo bu beristirahat,saya juga mau istrht!" pemuda itu mempersilahkan sambil menunjuk ke salah satu ranjang. Dia sendiri mengangkat tubuh dan tidur di ranjang yang lain.
Tanpa menaruh rasa curiga, dan tanpa bertanya sepatah katapun, aku melakukan hal yang sama seperti dirinya. Hanya saja, aku tidak menutupi sekujur tubuh dengan selimut sebagaimana pemuda itu.
Karena kantuk yang teramat sangat, aku langsung terlelap begitu punggungku menyentuh kasur di ranjang itu. Entah berapa lama aku tertidur, aku tidak ingat. Hanya yang pasti, dalam tidur aku mendapatkan mimpi yang sangat menyeramkan.

Dalam mimpi itu, aku seolah tertidur di tempat yang sama, dan terjaga. Begitu terbangun, yang kudapati hanyalah kegelapan. Akupun mencoba bangkit. Tapi....duk! Kepalaku terantuk benda yang keras. Dalam keadaan bingung dan takut, tanganku meraba-raba. Astaga! Aku terkurung di dalam peti. antara mimpi dan sadar aku seakan-akan ada didalam peti jenazah.

Ketakutanku pun semakin menjadi. Dengan menahan perasaan takut yang teramat sangat, tangan dan kaki aku dorongkan dengan sekuat tenaga ke atas. Seketika itu pula pintu peti terbuka, dan aku segera bangkit dengan panik. Aku berdiri sambil memandang keadaan sekeliling. Ternyata aku masih berada di tempat yang sama. Di sebuah kamar yang berisi empat buah ranjang. Hanya saja kalau sebelumnya ranjang-ranjang itu kosong, tidak berpenghuni, kini diatasnya sudah teronggok peti-peti mati yang dingin dan beku.

Peti-peti mati siapa itu? Batinku dengan tubuh gemetar. Kenapa peti-peti itu berada di sini? Kapan dan siapa yang meletakannya? Berbagai pertanyaan memenuhi benakku.
Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu sempat terjawab, dan sebelum rasa takut sempat kuatasi, sudah menyusul lagi peristiwa lain yang lebih menakutkan. Tanpa aku duga, peti-peti yang teronggok diatas ranjang itu tiba-tiba terbuka. Disusul dengan keluarnya sosok tubuh manusia dengan wajah pucat pasi. Akupun tidak kuasa lagi mengendalikan rasa takut. Tanpa sadar, mulutku sudah berteriak sekeras-kerasnya. Mendadak aku pun terjaga dari tidur.
"Astaqfirullah al'azim teryata hanya mimpi" pikirkuku saat terjaga, dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhku.
Saat kupandangi sekelilingku, aku terkesiap sebab aku sungguh-sungguh berada di tempat yang sama dengan yang ada dalam mimpiku. Ya, di sebuah kamar yang berisi empat buah ranjang. Namun, di atas ranjang-ranjang itu tidak ada lagi onggokan peti-peti mati. Hanya di salah satu ranjang saja aku jumpai tubuh manusia yang terutupi selimut putih. Mungkin, tubuh itu pemuda yang semalam mengajakku tidur disini.

Pemuda itu masih terbaring di tempatnya, dengan sekujur tubuh tertutup oleh selimut. Dengan kesadaran yang masih belum sempurna, aku lihat pintu kamar dibuka seseorang dari luar terlihat samar dengan pakain serba putih, rasa takut muncul semakin besar. ketika pintu terbuka lebar masuk dua orang perawat yang memandangku dengan sorot mata penuh tanda tanya, bahkan setengah ketakutan.

"I..ibu sii...apa..Ke.....kenapa ibu tidur di sini?" tanya salah seorang perawat itu dengan gugup dan ketakukatan.
"Ibu masuk lewat mana?" kata perawat satunya ikut melontarkan pertanyaan. "Kamar mayat inikan terkunci."
"Kamar mayat?" gumamku tidak mengerti.
"Ya, ini kamar mayat, Bu! Dan barusan, kami baru membuka pintunya yang masih terkunci. Lantas, Ibu masuk dari mana?" tutur si perawat yang pertama kali bertanya padaku.
Seketika jantungku berdegup keras. Sambil berusaha menenangkan perasaan, kuceritakan apa yang kualami, "Semalam saya diajak pemuda itu untuk beristirahat di sinii." Aku menudingkan telunjuk ke arah pemuda yang berbaring di ranjang yang lain.
Mendenar jawabanku, salah seorang perawat berjalan menghampiri ranjang yang ditempati pemuda itu. Kemudian membuka selimut yang menutupi wajahnya, sambil berkata,
"Bu, pemuda ini sudah meninggal kemarin siang akibat kecelakaan. Karena identitasnya masih belum diketahui, maka untuk sementara waktu ditempatkan di kamar mayat ini. Coba ibu lihat sendiri."
Dari jarak kurang dari 2 meter, aku lihat memang benar itu wajah pemuda yang semalam mengajakku beristirahat di kamar mayat ini. Tapi wajah itu tidak lagi bersih dan tampan, sebagaimana yang aku lihat semalam. Namun, wajah itu dihiasi luka serta bercak-bercak darah yang sudah mengering. Aku langsung terkulai lemas.

Post a Comment

 
Top