`
Bus Jurusan Jakarta Yogya Masuk Tanggul Kali Pemali Penampakan Bagai Jalur Tol
Warga Desa Terlangu Kecamatan Brebes kini diselimuti kehebohan yang bernunasa misterius. Pasalnya, kejadian langka menimpa desa tersebut, Senin (1/9) petang. Sebuah bus sarat penumpang nyaris terjerumus di sungai Pemali yang melintang di desa tersebut. Warga menganggap aneh mengingat sangat mustahil ada bus yang menyisir ke tanggul sungai tersebut.

"Memang aneh, kok ada bus yang naik ke tanggul Pemali. Padahal, untuk kesana saja sukar dibayangkan, karena jalannya tidak memungkinkan untuk dilewati," kata ujar Hartoyo (42), salah seorang warga setempat.

Kendati bus yang tersesat ke tanggul Pemali sudah kembali melanjutkan perjalanannya namun cerita misterius atas kejadian tersebut masih menjadi buah bibir yang menyebar ke desa tetangga. Beredar kabar, sejumlah warga yang menolong bus tersebut mendapatkan cerita. Konon, Eko sang pengemudi bus nahas Sumber Alam dengan nomor polisi AA 1701 BL itu dari Jakarta hendak ke Jogjakarta.

Sang pengemudi yang tak hafal jalan, semula menganggap Jalan di Taman Siswa Brebes, atau SMP 2 Brebes ke selatan adalah jalan alternatif Brebes-Jatibarang. Atas petunjuk warga, kemudian bus terus melaju menyusuri jalan Desa Wangandalem menuju ke jalan pasar Terlangu. Namun, sang pengemudi yang masih kebingungan kemudian menanyakan arah menuju Jatibarang.

Sekitar pukul 16.00 WIB Saat itulah, konon seorang warga dengan pakaian serba hitam mengarahkan pengemudi agar terus menuju ke arah barat yang sebetulnya adalah perkampungan menuju sungai Pemali. "Katanya sopir itu lihatnya disitu ada jalan tol, malah ada restorannya. Padahal itu jalan sempit ke arah kali Pemali. Mestinya kan dari pertigaan Terlangu ke kiri atau selatan ke Jatibarang, bukan lurus," kata warga lainnya.

Setelah hampir tiga jam tersesat di tanggul Pemali, pengemudi bus baru sadar dan kemudin shock karena bus yang membawa 30 penumpang nyaris masuk ke sungai. Dengan ketakutan, sang sopir kemudian balik arah hingga sampai masuk got dan menabrak gapura karena sempitnya jalan menuju ke permukiman warga. "Waktu sampai di perkampungan, supirnya kebingungan. Bahkan, STNK busnya juga diserahkan ke saya padahal saya tidak minta, kemudian setelah tenang bus melanjutkan perjalanan ke Jogja lewat Jatibarang," tuturnya

Post a Comment

 
Top