`
Cerita Misteri Ditempat Kerja, Saya Adalah Ranger Digunung Taman Nasional


Cerita ini adalah salah satu pengalaman saya selama menjadi ranger di taman nasional hampir 10 tahun. Protokol-protokol sering berubah seiring waktu. Saya menulis artikel ini untuk menjadi pelajaran buat kalian yang hobi hiking, camping, dan yang suka manjat-manjat gunung hati-hati saja untuk trip kalian berikutnya.

Ini adalah cerita waktu saya masih di tempat saya sebelumnya. Saya gak bisa terlalu spesifik ngomong kejadianya ini di gunung mana, atau taman nasional mana. Yang penting nasehat saya bisa berguna untuk kalian semua.
.
Di tempat saya bekerja ada yang namanya rotasi tempat camping. Jadi tujuannya adalah untuk mencegah agar tempat itu terlalu sering dilalui manusia sehingga merusak ekosistemnya. Oleh sebab itu, kita selalu melakukan rotasi titik camping yang boleh ditempati, yang mana tidak boleh ditempati.

Umumnya kalau musim hujan, daerah sini jarang ada yang datang, kecuali para pendaki-pendaki yang memang suka tantangan. Hari itu, saya sedang melakukan patroli rutin. Di pos pertama masih terlihat normal. Tapi di pos berikutnya saya menemukan sesuatu. Sepertinya ada pendaki nakal yang masuk kawasan gunung tanpa urus SIMAKSI. Mereka meninggalkan sampah-sampah dan bekas api unggun. Ini akan merepotkan kami untuk membereskan semua sampah-sampah.

Dan selanjutnya apa yang saya lihat jauh lebih mengerikan. Sebuah tenda rusak. Tiang-tiang penyangga tenda masih kokoh berdiri. Tetapi plastik tenda itu sudah robek parah. Dan juga, darah berceceran di mana-mana.

Darah ada di mana-mana.. Dan saya juga melihat ada bekas seretan menuju ke dalam hutan. Saya langsung mengeluarkan Handy Talkie untuk beritahu yang lain soal penemuan ini. Saya mengawasi dulu sekitar. Setelah memastikan kondisi saya aman, saya baru berbicara untuk meminta yang lain segera naik dan bantu saya.

Selama menunggu saya mencoba memasang telinga mendengar sekitar. Sunyi. Sunyi di dalam alam bukanlah pertanda bagus. Biasanya mangsa sengaja tidak bersuara, karena mereka merasa terancam. Saya berharap burung-burung dan hewan ini diam karena kehadiran saya.

Saya melihat isi dalam tenda itu. Ada bekas darah muncrat juga dalam dinding tenda bagian dalam. Saya yakin pasti ada yang meninggal. Tidak mungkin ada orang yang sudah berdarah separah itu masih bisa berjalan sendiri.

Namun setelah dicari-cari, tetap tidak ditemukan ada tanda-tanda manusia di situ. Hanya ada bekas sobekan pakaian. Namun tidak ada orang.

Terkadang, babi hutan mungkin saja menyerang tenda dan mencari sesuatu untuk dimakan. Tetapi tidak pernah saya melihat serangan babi hutan akan berakibat seperti ini. Ini sudah keterlaluan.

Akhirnya bantuan datang. Saya diarahkan untuk melapor dulu. Belakangan saya diinfokan bahwa tidak ditemukan siapa-siapa di sana. Jadi tidak jelas juga sebetulnya siapa yang hilang.

Cukup sebentar saya sampai di bawah gunung. Di situ hanya ada beberapa karyawan yang sedang bekerja. Dan semuanya terlihat sedang sangat sibuk. Atasan saya, langsung menyuruh saya masuk ruangan.

Saat saya masuk, dia mengunci ruangannya. Saya tidak pernah lihat dia mengunci kantor. Wajahnya pucat. Dia bertanya apa yang dilihat saya. Saya pun menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang telah saya lihat. Dia hanya diam mendengar tanpa memotong saya.

Setelah saya selesai bicara, dia terlihat semakin pucat. Saya mengira dia akan bertanya banyak hal. Ternyata tidak. Dia mempersilahkan saya keluar. Setelah saya keluar dari ruangannya, dia kembali mengunci pintu dan terdengar sedang menelepon ke seseorang. Entah apa yang dibicarakannya, tapi sore harinya atasan saya sibuk packing barang kantor dia seperti mau pindah.

pagi harinya dari pusat, mereka mengirim orang baru sebagai atasan baru kami. Ketika dia datang, hal pertama yang dia perintahkan adalah, untuk menangani lokasi camping yang saya temukan itu. Mereka memutuskan untuk melakukan pembakaran terkontrol daerah itu, dan menutupnya dari umum. Kami tidak berdebat dengannya.

Kemudian kami juga diperintah untuk memasang lebih banyak camera trap, di daerah tertentu. Beberapa hari kemudian hasil foto keluar, saya gak melihat hasil fotonya. Tapi yang saya tahu, si atasan baru ini begitu lihat hasil foto, terlihat sangat marah, dan langsung telepon sambil marah-marah. Hari itu, dia di kantor seharian.

Pagi berikutnya, kami melakukan rapat. Terlihat dia belum tidur. Dia memutuskan untuk memasang lebih banyak lampu sorot di dekat kantor kita, dan kamera pengintai.

Saya agak protes, karena tujuannya tidak jelas. Dan untuk apa kita pasang camera trap lebih banyak di dekat basecamp padahal hewan-hewan itu jarang melewati daerah situ? Namun dia tidak mau menjawabnya. Pokoknya kami harus melakukannya.

Aturan baru lainnya adalah kami, para ranger sekarang harus membawa senapan angin setiap kali patroli.

Waktu itu saya yang menjaga shift malam. Saya di-briefing agar kalau ada pesan darurat, jangan langsung respon. Kami boleh membalas, namun harap telepon dulu ke sebuah nomor yang saya gak kenal. Dan lagi, saya tidak boleh meninggalkan bangunan sampai matahari terbit. Sebetulnya selama saya yang jaga shift malam, tidak pernah terjadi hal-hal aneh.

Seminggu kemudian, ada segerombo remaja datang. Mereka mulai mendaki dengan menelusuri kali. Berdasarkan izin, mereka tidak berniat bermalam. Namun saat matahari mulai terbenam dan tidak ada tanda-tanda mereka turun, saya mulai menghubungi atasan saya. Dia meminta saya untuk melapornya langsung nomor telepon baru itu.

Ada pria yang menjawab. Dia tanya saya dari taman nasional mana, kemudian dia terdiam sebentar. Setelah itu, dia baru bertanya, ada masalah apa.

“Sekelompok anak-anak naik ke atas. Masalahnya mereka masih belum turun. Apa kami perlu naik untuk bawa mereka turun?”

“Jangan. Tolong jangan tinggalkan bangunan. Itu saja. Lapor kalau ada perkembangan baru.”

Saat subuh keesokan harinya atasan saya datang. Tumben sepagi itu dia datang, pikirku dalma hati.

“Bagaimana? Apa mereka sudah turun?”
.
“Belum. Masih belum. Mungkin siangan.”

Dia mengumpat lalu masuk ke dalam ruangan dan telepon. Beberapa saat, dengan senapan angin di tangan, dia keluar. Di mobilnya dia ambil jerigen yang saya tebak berisi bensin. Saya tanya dia ingin melakukan apa, dia tidak menjawabnya dan langsung naik ke gunung. Saya tidak bisa meninggalkan kantor, karena tidak ada yang jaga. Akhirnya saya telepon kembali ke nomor misterius itu.

Pria yang sama yang menjawab. Saya pun melapor bahwa atasan saya naik ke gunung sendirian. Apa yang harus saya lakukan.

“Tetap di situ. Jangan lakukan apa-apa. Nanti akan kami kirimkan bantuan. Lapor apabila ada perkembangan baru.”

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar suara mobil. Ada satu kompi orang keluar. Mereka berseragam lengkap dengan rompi dengan dan senjata laras panjang. Sepertinya siap untuk bertempur.

“Ada apa ini? Siapa kalian?” tanya saya heran.

Para anggota langsung berbaris rapi seperti tentara. Salah satu dari mereka, saya rasa, pemimpin mereka, berbicara langsung dengan saya.

“Ke mana atasan kamu pergi?”

“Dia di atas situ,” ujar saya sambil menunjuk ke posisi asap.

Pasukan itu langsung berangkat menuju ke atas. Setengah jam kemudian tentara membawa atasan saya turun. Dalam keadaan terikat.

“Saya harus melakukan apa yang harus dilakukan! Percaya aku! Ini sebetulnya lebih parah dibanding apa yang dikira pihak pusat! Kita tidak bisa menghentikan ini. Kita harus bakar semuanya!” teriak atasan saya.

Mereka memasukkan atasan saya ke dalam mobil mereka. Lalu si pemimpin menemuiku lagi.

“Saya perlu memeriksa seluruh kantor ini. Semua data di kantor atau harddisk, saya harus ambil. Apa bisa dibantu?”

Saya membukakan pintu untuk mereka. Mereka langsung menggeledah kantor kami. Seluruh ruangan dicek tanpa terkecuali. Setelah mereka mendapatkan barang yang mereka cari, mereka pun siap-siap pergi.

Si pemimpin itu sebelum pergi berpesan ke aku, “Jangan bicarakan hal ini ke siapapun juga.”

Berita pendaki yang hilang hanya mencuat sebentar, dan setelah itu tenggelam. Namun rumor ada hal aneh di gunung ini, sepertinya lumayan terkenal di kalangan pendaki, itu sebabnya tempat itu semakin sepi pengunjung.

Secara kerjaan, lebih enak. karena saya menjadi tidak sibuk. Beberapa hari kemudian, atasan baru datang. Atasan ini meminta memasang kamera pengintai di sekitar kantor kami. Seolah-olah gunung ini masih kekurangan kamera, kami hanya bisa mengikuti arahannya walau tanpa mengerti sebetulnya ada apa.

Lewat dua tiga hari, kami mengumpulkan foto-fotonya. Seperti biasa, yang bisa melihat hanyalah atasan kami. Beberapa jam dia melihat foto, dia berteriak di dalam kantor.

Terkejut dia terjadi apa-apa, kami lari masuk ke dalam ruangannya. Dia terlihat sangat marah, “Katanya tempat ini sudah aman. Aman apanya?!”

Dia menyuruh kami segera keluar dari ruangan. Lalu dia pun mulai telepon. Satu ranger baru kami mencoba curi-curi dengar pembicaraannya. Beberapa saat kemudian si ranger balik dan lapor, “Ya, si atasan kita minta dipindahkan ke tempat lain. Katanya mereka membohonginya. Lalu ada singgung-singgung sesuatu terkait mereka tidak melakukan pekerjaan dengan benar, dan dia tidak dibekali perlengkapan.”

Atasan kami keluar dengan wajah lesu, seperti habis kalah perang. Saya tidak tahu sebetulnya ada apa, tetapi sepertinya gunung ini memang menyimpan misteri yang tidak biasa.

Jaga shift malam masih tetap dilakukan. Saya kadang bingung, kami diperintahakan tidak boleh keluar dari bangunan kalau malam. Jadi untuk apa masih jaga malam. Hal itu yang membuat saya penasaran juga.

Seperti yang saya bilang, selama saya jaga malam, tidak ada apa-apa yang terjadi. Namun saat atasan saya yang baru ini jaga malam, akhirnya terjadi sesuatu.

Jadi saat giliran atasan saya yang jaga shift malam, dia sengaja membawa lampu sorot. Katanya, ini untuk jaga-jaga. Jaga-jaga dari apa, saya kurang tahu.

Saat saya sedang tidur di rumah, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. Saat itu jam 3 pagi. Dari atasan saya.

“Segera kesi bantu saya!”

Dengan masih setengah kantuk saya tanya ada apa, tapi atasanya saya masih bicara ditelpon dengan nada kesal dan marah.
.
“Sekarang juga! Saya telah melakukan kesalahan. Mereka sepertinya malah tertarik pada cahaya. Bantuan baru datang saat jam 5. Saya sudah mati kalau tunggu selama itu!”

Dari balik sambungan telepon, saya mendengar suara tembakan. Diam sesaat. Kemudian ada suara tembakan lagi. Lalu terdengar suara teriakan. beberapa saat sambungan telepon terputus.

Panik, saya telepon ke nomor yang dikasih dulu. Kali ini pria lain yang angkat.

“Anu. Saya kerja di Taman Nasional XX. Baru saja tadi atasan saya XX telepon.”

“Iya, tadi orangnya baru saja telepon. Ada yang ingin kamu laporkan?”
.
“Sepertinya terjadi sesuatu. Ini serius. Saya mendengar suara tembakan.”

“Kami akan mengirim bantuan sesegera mungkin. Ada lainnya lagi?”

“Ya. Dia bilang, mereka sepertinya tertarik pada cahaya. Saya tidak tahu apa maksudnya.”

“Baiklah. Terima kasih banyak atas laporannya. ”

Telepon langsung ditutup.

Belakangan, kawasan gunung itu ditutup keseluruhan untuk alasan konservasi ekosistem. Tidak tahu kapan baru akan dibuka lagi. Tidak ada laporan resmi apa yang terjadi pada atasan saya yang itu. Setelah kejadian itu, saya akhirnya dipindahkan ke kawasan taman nasional lainnya.

Di sana lebih tenang. Pemandangannya juga sangat cantik. Seperti biasa di kawasan gunung ini juga ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi. Namun ada aturan baru. Kalau sudah gelap jangan pergi terlalu jauh. Dan jangan membawa lampu sorot.

Saya tidak mengerti mengapa kita tidak boleh membawa lampu senter sorot di malam hari? Mereka tidak pernah mau menjelaskannya.

Da hingga kini kejadian ditempat yang dulu juga masih penuh misteri.

Post a Comment

 
Top