`
Misteri Tumbal Darah Hingga Nyawa Demi Mendapatkan Sebongkah Emas


Panggil saja namanya Uda Akhmad. Lelaki 40 tahun asal Pariaman, Sumatra Barat ini menceritakan pengalamannya dua tahun menjalani lelaku gaib demi memperoleh bongkahan emas di Kabupaten Tebo, Jambi. Pria anak dua ini mengaku pernah bekerja sebagai penambang antara tahun 2008 sampai 2010 di daerah Tanjung, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Tebo.

Menurut Uda Akhmad, ia awalnya diajak salah satu saudara sepupunya yang sudah terlebih dahulu berprofesi sebagai penambang. Tekanan ekonomi hidup di kampung mendorong Akhmad merantau ke Jambi mengikuti jejak sepupunya sebagai penambang emas tradisional.

"Awalnya saya kerja sama dia (sepupu)," ujar Uda Akhmad yang saat ini memilih hidup dari berjualan nasi Padang di kawasan Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Saat dirinya datang pertama kali, di daerah tempatnya menambang sudah ratusan warga yang datang. Baik itu warga lokal maupun dari luar provinsi. "Kalau dari Jawa itu kebanyakan dari Pati atau Jawa Timur," tutur Akhmad.

Sebagai penambang pemula, Akhmad murni hanya memperoleh penghasilan dari sepupunya. Untuk ukuran tahun 2008 Akhmad mengaku pendapatannya tergolong kecil apabila dibanding penambang lainnya. "Saya cuma melok (ikut) saja. Jadi dapatnya dikit, paling banyak satu jutaan per minggu," ujar dia.

Hari ke hari, minggu ke minggu hingga berganti bulan, Akhmad mulai tahu rahasia para penambang agar memperoleh emas dengan cara cepat. Awalnya terdengar aneh, namun kenyataan yang dilihat Akhmad tak bisa ia pungkiri. Banyak penambang rela menjalani lelaku gaib demi jalan pintas memperoleh emas.

"Banyak, bukan saya saja. Ada yang ke dukun, ada yang sampai memberikan sesajian," tutur Akhmad.

Suatu malam di tahun 2009, Akhmad nekat menemui seseorang yang dianggap sakti dan memiliki kemampuan khusus terutama membantu perburuan emas. Saat bertemu sang dukun, Akhmad mengaku diberi sejumlah pilihan agar usahanya mencari butiran emas menjadi mudah dan tentunya cepat.

Namun, bagi Akhmad pilihan itu tidak lah mudah. Harus ada yang dikorbankan atau biasa disebut tumbal agar ikhtiarnya menjalani lelaku gaib benar-benar terlaksana. "Tumbalnya macam-macam, ada yang minta darah, sampai minta nyawa. Ini yang berat," kata Akhmad.

Semakin berat tumbal yang diberikan. Maka semakin banyak emas yang nantinya bakal diperoleh. Akhmad yang awalnya bimbang akhirnya memilih mengurungkan niatnya menjalani lelaku gaib dengan tumbal nyawa. Pria berawakan tambun ini masih memiki rasa takut akan balasan apabila menjalani lelaku gaib.

Menurut Akhmad, hingga saat ini, satu sepupunya tersebut masih aktif sebagai pemburu emas di Kabupaten Tebo. Banyak koleganya yang dinilai berhasil secara ekonomi setelah menambang emas tradisional. Mulai dari membeli tanah, membangun rumah atau membeli motor dan mobil.

"Tapi itu tadi, banyak yang pakai dukun dan tumbal juga," ucap Akhmad.

Tak betah tinggal di hutan daerah pedalaman, belum lagi ancaman longsor maupun razia aparat membuat Akhmad memilih merantau ke Pulau Jawa. "Kalau jadi penambang susah bawa keluarga. Akhirnya saya pindah ke sini (Kabupaten Bekasi) jualan nasi," Akhmad memungkasi.

Post a Comment

 
Top