`
Anak Ayam yang Kubawa Berubah Jadi Kelapa Hantu Gundul Pringis 


Keluarga kami memiliki ayam jago sejumlah lima ekor dan ayam betina sekitar sembilan ekor. Total anak ayam yang ada sekitar dua belas ekor. Dan bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang, kami telah selesai menangkap semua ayam-ayam kami.

Kakak-kakakku dan aku menenteng karung yang berisi ayam tersebut kembali ke kandang dan memasukkannya. Jumlahnya sudah sesuai. Akupun segera masuk ke rumah, mencuci kaki dan bersiap untuk berangkat ke surau yang dekat dengan rumah kami. Ketika aku hendak keluar bersama kakak-kakakku menuju mushola, aku mendengar bisa mendengar satu suara misterius yang sayup-sayup terdengar di telinga.

Pik pik pik… pik pik pik…

Suara samar yang yang tadi sempat memecah hening suasana maghrib itu ternyata merupakan suara anak-anak ayam. Suara itu dekat dan terdengar dari balik pohon mangga yang ada di belakang rumah. Pohon itu persis berada sekitar 5 meter dari kandang ayam kami.

“anak ayamnya sudah kamu tangkap semuanya belum sih” Ucap salah satu kakakku menanyakan

“sudah kak, sudah semuanya aku tangkap berjumlah dua belas” jawabku dengan penuh keyakinan. Karena aku memang merasa sudah menangkap dan menghitung dengan benar anak-anak ayam yang telah ku tangkap tadi.

“jangan-jangan kandangnya belum tertutup rapat, buruan tangkap lagi selagi belum terlalu malam, lalu kamu menyusul kami ke masjid” perintah kakakku yang lain agar aku menangkap ayam tersebut. Akupun melakukannya dan kedua kakakku bertandang ke mushola dekat rumah.

Aku bergegas mengambil karung dari dalam rumah, lalu mendekati suara-suara anak ayam tersebut sambil memasang telingaku dengan teliti. Suara itu tadinya berasal dari balik pohon mangga, namun kemudian berpindah ke semak-semak yang agak jauh. Aku dengan cermat mencari arah suara tersebut dengan menggunakan lampu minyak kecil yang kubawa saat itu. Sebenarnya aku sedikit takut saat itu, karena aku harus mencari dan menangkap anak-anak ayam tersebut diantara gelapnya suasana bakda maghrib tersebut.

Pik.. pik… piik.. pik…

Suara itu mengeras dan berasal dari balik semak di sisi pagar pembatas. Akupun bergegas mendatanginya dan membuka semak-semak tersebut. Aku terkejut dengan apa yang aku temukan setelahnya.

Ternyata dibalik semak itu tidak hanya ada satu ekor anak ayam saja, melainkan tiga ekor. Bagaimana bisa aku salah hitung sampai tiga ekor ayam ketika aku memasukkan anak-anak ayam sore tadi ke kandang. Aku menyana bahwa mungkin tiga ekor anak ayam tersebut bukanlah ayam kami. Mungkin tiga ekor ayam tersebut merupakan anak ayam tetangga yang kelupaan dimasukkan ke kandang dan terpisah dari induknya.

Hati kecilku merasa iba bila meninggalkan ketiga ekor anak ayam tersebut. Karena bisa-bisa mereka dimangsa oleh luwak atau musang yang sering berkeliaran di daerah ini. Akhirnya aku memasukkan ketiga ekor anak ayam tersebut dan menyampirkannya ke pundakku. Aku berjalan perlahan menuju kandang ayam di samping rumahku.

Namun dalam perjalanan ke arah kandang ayam tersebut, aku merasakan sesuatu hal yang aneh. Karung yang kubawa lama kelamaan menjadi semakin berat dan berat. Dan dalam suasana maghrib itu, aku mendengar sayup-sayup suara terkekeh.

Baca Uga : 

hihihi… enak, enak, enaak…

Aku menghentikan langkahku sejenak, untuk memastikan apakah aku salah dengar atau tidak. Suara terkekeh itu ikut berhenti ketika aku berhenti. Akupun kemudian melanjutkan langkahku menuju kandang ayam. Dan suara itu terdengar kembali. Dan kali ini sedikit lebih keras.

HIHIHI.. ENAAAK… ENAKK… ENAAAAAK

Aku terhenti kembali, namun ketika itu aku merasa ada yang bergerak-gerak dibelakang punggungku yang berasal dari karung yang kusampirkan kebelakang tubuhku tadi.

Karung itu bergerak-gerak sembari mengeluarkan suara terkekeh yang tak berhenti… enak, enak, enaak… hihihi.. ENAAAK…

Karena aku merasa ketakutan aku melemparkan karung tersebut jauh-jauh ketanah. Aku bergidik ketakutan karena karung yang berisi tiga ekor ayam yang kutangkap tadi bergerak-gerak tak karuan dan menimbulkan suara tertawa yang cukup membuat ngeri. Beberapa saat kemudian dari dalam karung yang tergolek diatas tanah itu menggelinding keluar tiga buah kelapa gelondong yang berwarna perang kecokelatan.

Tiga ekor anak ayam yang tadi kutangkap tiba-tiba menjadi tiga butir buah kelapa mengkerut yang dipenuhi bercak-bercak hitam. Aku tak bisa beranjak dari tempatku berdiri, entah karena aku sudah melampaui batas rasa takutku atau memang ingin tahu apa gerangan benda berbentuk kelapa kusut tua itu.

Ketiga kelapa tersebut bergumul membalikkan satu sisinya yang memiliki tiga lubang. Entah apa aku salah lihat atau tidak, ketiga lubang itu tampak seperti dua buah mata dan mulut. Permukaan ketiga lubang tersebut seolah terpahat dan membentuk suatu raut wajah yang menyeramkan. Itu adalah hantu gundul pringis. Ketiga kelapa itu seolah menatapku dengan rona wajah yang sedikit marah.

"Hei! enak.. enak… gendonglah aku lagi.. gendonglah aku lagi"

Ketiga buah kelapa itu berteriak-teriak memintaku untuk membawanya dengan karung seperti tadi. Kakiku melemas dan aku jatuh terduduk. Meraih-raih sekitar tempatku terjatuh berharap menemukan sesuatu yang bisa kugunakan untuk melawan makhluk-makhluk menyeramkan itu. Aku menguatkan kedua kakiku untuk berdiri. Akupun beranjak dari tempat itu dengan berlari sekuat tenaga menuju ke arah musholla. Karena saat itu kakakku dan kedua orang tuaku pastilah sedang berada di mushola untuk melakukan ibadah sholat maghrib. Jarak mushola sekitar 100 meter dari rumahku. Aku terus berlari dan berlari danpa terlalu menggubris apa yang ada di jalan, hingga… GABRUKK!!

Aku jatuh tersungkur di tanah karena tersandung sebuah akar tanaman. Tangan dan kakiku lecet dan aku bisa mencium bau segar darah yang keluar dari siku kananku. Mataku mulai sayu dan mengeluarkan air mata.

Hihihihi… enaak.. enaaak… gendongen aku meneeeh… gendongen aku meneh…

Suara dari kelapa itu ternyata berada tepat dibelakangku. Sosok gundul pringis itu ternyata mengejarku. Aku bangkit dari tanah dengan luka-lukaku yang terasa sakit. Aku berlari terhuyun-huyun ke arah mushola setapak demi setapak. Aku masih mendengar suara-suara enaak… gendongen aku meneeh… dari ketiga kelapa tadi memecah setiap jengkal langkah kaki kecilku. Hingga akhirnya aku sampai di teras masjid dan menangis sejadi-jadinya.

Orang-orang di dalam masjid yang kebetulan telah usai menunaikan ibadah sholat Maghrib menghampiriku, termasuk kedua kakakku dan ayah ibuku. Mereka bertanya tentang apa yang terjadi kepadaku. Dan akupun menceritakan tentang pengalaman seram yang baru saja aku alami ketika menangkap tiga anak ayam yang kemudian berubah menjadi sosok kelapa kering yang tertawa-tawa.

Semenjak itu, aku tidak pernah berani keluar rumah sendirian setelah masuk waktu maghrib. Karena aku khawatir ketiga hantu gundul pringis itu akan mendatangiku lagi dan memintaku untuk menggendongnya di punggungku. Kedua kakakku mengatakan bahwa agar aku terhindar dari hal-hal mengerikan dan pengalaman seram seperti itu, aku harus lebih dekat dengan Tuhan. Dan semenjak saat itu aku menjadi anak yang paling rajin dalam mengaji.

Post a Comment

 
Top