`
Jadi Tumbal Pesugihan Jasad Satu Keluarga Berubah Jadi Pohon Pisang


Tim KKN saya terdiri dari 16 orang yang berasal dari 7 fakultas berbeda. Ada fakultas ekonomi, komunikasi, hukum, sosial politik, pertanian, peternakan dan psikologi. Masing-masing fakultas diwakili 2 orang, kecuali pertanian dan peternakan yang mengirim 3 mahasiswa.
Setiba di lokasi, tempat tinggal tim dibagi dua. Tujuh anggota cewek menempati rumah lama milik Sekdes. Rumah ini bukanlah bangunan yang lama tidak dihuni. Sekdes pindah ke rumah barunya sekitar 1 minggu sebelum kedatangan kami.

Rumah ini menjadi base camp resmi, atau biasa kami sebut dengan Sekretariat. Anggota tim KKN sisanya menempati rumah yang cukup besar di dekat perbatasan desa dengan hutan. Rumah ini kami jadikan base camp tidak resmi karena lokasinya yang agak terpencil sehingga tidak khawatir mengganggu tetangga karena suara obrolan kami. Jarak terdekat tetangga dari base camp ini sekitar 100 meter.

Suatu malam, kami sedang berkumpul di basecamp. Tidak semua anggota tim KKN karena ada yang sedang belanja barang kebutuhan ke Cianjur, ada juga yang sedang ijin kembali ke Bandung. Sebelas orang yang tersisa malam itu, termasuk saya, sibuk membicarakan progres program-program yang sudah kami buat.

Tiba-tiba hujan turun sangat deras diikuti oleh petir dan angin. Kami yang sedang duduk di teras langsung pindah ke dalam rumah karena air hujan masuk akibat hembusan angin yang sangat kencang. Di ruang tengah, pembicaraan soal program pun kami lanjutkan.

Salah satu teman pamit buang air kecil sekaligus menawarkan diri membuatkan kopi. Tawaran yang langsung diterima dengan baik.

Sekitar 5 menit kemudian, teman tadi kembali tanpa membawa kopi.

“Mana kopinya? Katanya mau bikinin kopi?” Tanya Fitri, teman saya satu fakultas.

“Tunggu airnya mendidih. Eh, kalian tadi denger suara orang jerit nggak?” Miftah mengalihkan bahan pembicaraan.

Kami saling berpandangan. Bingung. Kemudian serempak menggelengkan kepala.

“Tadi pas lagi di kamar mandi, aku kayak denger suara orang njerit. Kayaknya suara perempuan. Atau nggak, suara anak-anak.”

Kami bersepuluh sama sekali tidak mendengar suara lain kecuali riuhnya bunyi hujan menimpa atap rumah.
Miftah kembali ke dapur tanpa bilang apa-apa lagi. Tidak lama kemudian, dia datang lagi sambil membawa nampan berisi kopi.

Menjelang tengah malam, hujan masih turun cukup deras namun tidak lagi dibarengi petir dan angin. Cuaca tidak memungkinkan saya dan teman-teman pulang ke Sekretariat, ditambah lagi kondisi jalanan yang gelap dan becek. Malam itu, kami putuskan untuk tidur di base camp. Toh, teman kami yang sedang ke Cianjur sudah mengabari mereka tidak bisa kembali karena hujan deras.

Saya dan teman-teman perempuan menempati kamar tengah, kamar yang paling besar. Kami berempat langsung pelor, nempel (bantal) molor (tidur).

Tok. Tok. Tok…

Sayup-sayup, saya mendengar bunyi ketukan halus.

Tok. Tok. Tok…

Apa saya lagi mimpi?

Tok. Tok. Tok…

Saya berusaha bangun dan mengaktifkan indera pendengaran, mencari sumber bunyi. Jendela? Pintu kamar? Atau… bunyi tetesan air sisa hujan?

Terdengar suara berderit pelan. Seseorang membuka pintu.

Jantung saya berdegub sangat kencang. Rasa kantuk mendadak hilang. Kondisi kamar yang remang menyulitkan saya melihat siapa yang membuka pintu. Selarik cahaya lampu dari ruang tengah masuk dari balik pintu.

Aah, ternyata Fitri yang membuka pintu kamar. Saya pun lega.

Fitri berbicara dengan seseorang dalam nada rendah. Saya tidak bisa melihat siapa lawan bicaranya karena terhalang daun pintu. Fitri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah saya.

“Kenapa, Fit?” Saya bertanya.

“Elu belum tidur, Ty?” Fitri balik bertanya.

“Tadi sih udah, tapi kebangun lagi. Ada apa? Siapa itu?”

Dari balik pintu muncul wajah Reza. “Ty, elo bisa keluar sebentar? Urgent.”

Saya keluar kamar bersama Fitri. Di ruang tengah tempat kami berdiskusi tadi sudah berkumpul teman-teman cowok lainnya. Lengkap. Ada apa ini?

“Ty, Fit, elu inget tadi Miftah tanya soal orang njerit?” Reza membuka percakapan.

Kami berdua mengangguk mengiyakan.

“Tadi kita denger lagi. Kita semua, bukan cuma Miftah.” Reza melanjutkan.

Saya dan Fitri cuma diam.

“Kayaknya, asalnya dari rumah yang di ujung kebun itu.” Miftah menambahkan.

Aku ingat rumah kecil di ujung kebun belakang. Rumah itu ditinggali oleh seorang ibu muda bersama mertua perempuannya. Kami biasa memanggilnya Teh Siti dan Mak Unyeh. Belum lama ini Teh Siti melahirkan anak pertamanya, seorang putri yang cantik. Kami sempat menjenguknya sekitar seminggu yang lalu sambil membawakan barang-barang kebutuhan bayi. Saat kami datang, kami tidak melihat suami atau bapak mertuanya. Kabar yang beredar, suami dan bapak mertuanya pergi merantau ke kota Jakarta.

“Aku sama Miftah mau ngelihat ke situ. Takutnya ada apa-apa.” Kata Reza.

Saya paham alasan Reza mengajak Miftah. Selain berbadan paling kekar, Miftah juga menguasai ilmu bela diri.

Dengan berbekal dua senter beam besar dan radio komunikasi portable, Reza dan Miftah keluar dari pintu belakang. Hawa dingin yang menusuk menyeruak masuk saat pintu terbuka.

Di ruang tengah, kami menunggu kabar dengan cemas. Sementara di luar, hujan sudah berhenti. Keadaan sangat senyap. Sama sekali tidak terdengar bunyi kodok yang biasanya bersuka ria setelah hujan. Begitu pula serangga dan burung malam, tidak ada satu pun yang bersuara. Saya ingat paman saya (dia seorang pecinta alam sejati) pernah bilang, alam yang terlalu sunyi bukanlah pertanda baik.

Sudah lebih dari 15 menit belum juga ada kabar dari Reza dan Miftah. Takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua, Indra mencoba memanggil lewat radio komunikasi.

“Za… Miftah…”

Tidak ada jawaban.

“Reza…. Miftah…” Panggil Indra lagi.

Masih belum ada jawaban.

“Reza… Miftah… Kalian baik-baik aja? Kalian di mana? Ganti!” Indra menaikkan volume suaranya.
Sedetik kemudian terdengar suara radio bergemersik.

“Roger, ini Reza. Ini siapa? Ganti.”

“Gue, Indra. Gimana, Za? Ganti.”

Kembali tidak ada jawaban.

“Za…!” Panggil Indra.

“Roger, Ndra. Sebentar gue balik dulu ke rumah. Nanti gue ceritain. Over and out.” Reza memutus komunikasi.

Sepuluh menit kemudian Reza dan Miftah sampai base camp. Dari wajah mereka berdua, kami tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.

Sesampainya di ruang tengah, Reza langsung mendatangi peranti radio yang tadi digunakan Indra, sementara Miftah bergabung dengan kami tanpa bilang apa-apa. Reza kemudian mencari frekuensi radio yang biasa dipakai perangkat desa.

Saya melirik jam di tangan kanan. Sudah hampir jam 2 dini hari. Apa masih ada yang bangun?

Tiba di frekuensi yang dicari, terdengar suara-suara orang ramai bicara. Rupanya hujan deras dan angin kencang semalam sudah membuat beberapa pohon tumbang. Bahkan, ada satu yang menimpa bangunan sekolah dasar.

Reza memanggil Pak Kades melalui radio komunikasi.

“Muhun, Jang. Aya naon? Bapak keur mariksa tangkal nu ngarubuhan gedung sakolah.” Jawab Pak Kades. (Iya, Nak. Ada apa? Bapak lagi meriksa pohon yang menimpa gedung sekolah.)

“Ieu, Pak. Abdi aya kaperyogi ka Bapak. Penting pisan. Ganti.” Kata Reza. (Begini, Pak. Saya ada keperluan dengan Bapak. Penting banget.)

Reza berusaha bicara setenang mungkin, namun tetap tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang dirasakannya. Atau… rasa takut? Setidaknya itu yang saya rasakan.

Reza meminta Pak Kades datang ke base camp saat itu juga. Jika memungkinkan, Pak Kades juga mengajak seorang pemuka agama dan tenaga kesehatan. Pak Kades menyanggupi setelah mendengar penjelasan singkat Reza.

Sambil menunggu kedatangan Pak Kades, Reza menceritakan apa yang dialaminya bersama Miftah….

 Sesampainya di rumah teh Siti, kondisi rumah sangat gelap. Tidak ada satu pun penerangan yang terlihat menyala. Situasi sekeliling rumah pun sama. Gelap dan sangat sunyi. Saya memanggil-manggil Teh Siti.

“Teh Siti… Teh Siti… Ieu abdi, Reza, budak KKN.” (Teh Siti… Teh Siti… Ini saya, Reza, anak KKN).

Tidak ada jawaban.

Saya mengulangi panggilan dibantu Miftah. Masih tidak ada jawaban.

Kami mengetuk pintu depan rumah sambil terus memanggil-manggil Teh Siti dan ibu mertuanya, Mak Unyeh. Tetap tidak ada jawaban. Ada yang tidak beres, bisik hati kecil saya.

Miftah menggamit saya, mengajak untuk memeriksa kondisi sekeliling rumah. Saya langsung menyetujui. Kami beranjak dari teras menuju ke samping rumah.

Kami menyorotkan senter ke sekeliling untuk memastikan kondisi aman. Di samping rumah, kami melihat satu jendela yang daunnya sedikit terbuka. Seberkas cahaya redup kekuningan berpendar dari celah-celah kayu daun jendela.

Miftah mengetuk daun jendela seraya memanggil Teh Siti dan Mak Unyeh.

“Mak Unyeh… Teh Siti… Ieu Miftah, jeung Reza. Teteh teu naon-naon?”

Senyap. Sunyi. Terlalu sunyi malah. Bahkan suara dengkuran halus khas orang tidur pun tidak terdengar.

“Mak Unyeh… Teh Siti… Ieu abdi, Reza. Abdi jeung Miftah. Teteh teu naon-naon?”

Gantian saya yang memanggil. Masih tidak ada jawaban apa-apa.

Ratusan perasaan menyelinap masuk ke hati saya dan Miftah. Berbagai skenario terburuk hinggap di otak kami. Sesudah mengumpulkan keberanian, kami membuka jendela lebih lebar dan melihat ke dalam kamar.

Ruangan yang hanya diterangi lampu minyak tempel menyulitkan kami melihat dengan jelas. Terpaksa kami menggunakan senter yang dibawa.

Firasat terburuk kami menjadi kenyataan tapi tetap saja kami tidak siap dengan apa yang kami lihat.
Mak Unyeh berbaring dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar. Di samping kirinya, si bayi mungil juga berbaring tidak bergerak. Di sebelah bayi, terbujur ibunya, Teh Siti. Kondisi Teh Siti sama persis dengan Mak Unyeh.

Saking kagetnya, hampir saja senter yang saya pegang terlepas. Belum hilang kaget melihat kondisi Mak Unyeh sekeluarga, radio di tangan kiri berbunyi. Terdengar suara Indra memanggil.

“Za… Miftah…”

Selama Reza bercerita Miftah hanya diam. Wajahnya masih sedikit terlihat pucat akibat shock. Kami juga terdiam. Sulit bagi kami membayangkan apa yang sudah pada keluarga Mak Unyeh. Kami juga tidak bisa membayangkan perasaan Reza dan Miftah yang pertama kali melihat kondisi mereka.

Sekitar pukul setengah tiga subuh, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dari ruang tengah, kami melihat Pak Kades turun dari mobil diikuti oleh 4 orang lainnya. Rupanya Pak Kades mengajak Mantri Puskesmas, Pak Kyai dan 2 orang hansip.

“Assalamualaikum,” salam Pak Kades.

“Wa alaikum salam.” Kami menjawab nyaris serempak.

Pak Kades, Pak Mantri dan Pak Kyai bergabung dengan kami di ruang tengah, sementara 2 orang hansip memilih duduk di teras.

Reza mengulangi lagi ceritanya. Kali ini, Miftah ikut bicara, melengkapi bagian-bagian yang terlewatkan. Rupanya dia sudah lebih tenang. Sementara itu, Pak Kades dengan seksama menyimak cerita Reza dan Miftah sambil sesekali mencatat. Pak Kyai dan Pak Mantri pun demikian. Mereka sama sekali tidak menyela pembicaraan.

Selesai Reza dan Miftah bercerita, Pak Kades mengajak untuk memeriksa kondisi Mak Unyeh sekeluarga. Hanya 7 orang yang berangkat ke rumah Mak Unyeh, termasuk 2 orang hansip.

Kami yang tidak ikut ke rumah Mak Unyeh tidak bisa lagi melanjutkan tidur. Rasa penasaran sekaligus takut sudah menggantikan rasa kantuk. Kami semua berkumpul di ruang tengah, termasuk dua teman yang tadi tidur di kamar bersama saya dan Fitri. Tidak ada satu pun yang mau melewatkan kejadian penting dini hari ini. Namun tidak ada yang sanggup membicarakannya. Kami cuma diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tiga puluh menit berlalu, rasanya seperti sudah ribuan jam kami menunggu. Lamat-lamat kami mendengar bunyi langkah kaki dan suara orang bicara. Suara semakin jelas dan pintu depan terbuka. Reza yang pertama masuk diikuti Pak Kades, Pak Kyai, dan Miftah. Tidak lama, terdengar suara mobil dinyalakan dan pergi meninggalkan halaman base camp.

Dari wajah-wajah mereka semakin jelas bahwa sesuatu yang sangat luar biasa sudah terjadi. Melalui radio komunikasi, Pak Kades memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan masjid dan menggali 2 lubang di pemakaman desa. Pak Kyai berulang kali terdengar mengucapkan kalimat istighfar secara lirih. Matanya menerawang ke langit-langit rumah. Selesai memberi instruksi, Pak Kades mengajak Pak Kyai pindah ke teras.

Reza berbisik di telinga saya, minta tolong dibuatkan kopi untuk Pak Kades dan Pak Kyai. Saya mengajak Hanny menemani ke dapur. Selesai membuat kopi untuk dan mengantarkan ke teras, kami dikumpulkan di ruang tengah. Reza mengupdate kami peristiwa di rumah Mak Unyeh.

Setelah memastikan situasi rumah aman, kami berempat masuk ke dalam rumah. Miftah dan kedua hansip berjaga-jaga di luar.

Pak Mantri langsung memeriksa kondisi Mak Unyeh, Teh Siti dan bayi mungil yang belum sempat diberi nama. Ketiganya dipastikan sudah meninggal dunia. Di sekeliling jenazah tidak ditemukan genangan darah, obat serangga, atau barang-barang yang bisa menyebabkan kematian. Namun, di lengan kanan Mak Unyeh ditemukan 2 titik kecil berwarna merah yang mencurigakan. Titik kecil yang sama ditemukan di betis kiri Teh Siti. Pada si bayi, ditemukan pada paha kanannya. Dua titik kecil ini mirip dengan bekas patukan ular.

Pak Kyai kemudian meminta kami membaca Al Fatihah demi ketenangan almarhumah. Beliau lalu menutup mata dan mulut Mak Unyeh dan Teh Siti.

Pak Kyai meminta jenazah dimakamkan secepat mungkin karena ada yang tidak wajar pada kematian ketiganya. Pak Kades agak keberatan. Menurut Pak Kades, lebih baik menunggu suami-suami mereka datang dari kota.

“Mereka tidak akan datang,” tegas Pak Kyai.

Kami kaget mendengar ucapan Pak Kyai.

“Semoga saya salah. Tapi Insya Allah, firasat saya bilang mereka tidak akan datang,” lanjut Pak Kyai.

“Kematian Mak Unyeh, Siti dan anaknya sepertinya disebabkan oleh sesuatu yang tidak biasa. Bapak bisa lihat, mata dan mulut Mak Unyeh dan Siti terbuka lebar. Mereka seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan sesaat sebelum kematian. Ditambah lagi ada 2 titik kecil yang mencurigakan. Lagi pula kalau harus menunggu suami mereka pulang, kasihan arwah Mak Unyeh, Siti dan anaknya,” tambah Pak Kyai.
Mendengar penjelasan Pak Kyai, Pak Kades pun menyetujui pemakaman dilaksanakan secepat mungkin.

Pemakaman Teh Siti, bayinya, serta Mak Unyeh dilakukan dini hari itu juga, dipimpin langsung oleh Pak Kyai. Ada sekitar 20-an orang yang menghadiri pemakaman, termasuk saya dan 5 anggota tim KKN lainnya.
Usai prosesi pemakaman, rombongan pengantar bersiap-siap untuk pulang. Dengan hati-hati kami berjalan di antara nisan. Kami juga harus menghindari genangan lumpur di sana sini akibat hujan lebat semalam.
Tiba-tiba terdengar suara mirip ledakan yang cukup keras dari tengah komplek makam. Semua orang terkejut sekaligus ketakutan, khawatir ada ledakan susulan. Satu-satunya orang yang tetap tenang hanya Pak Kyai. Beliau berdiri tegap. Wajahnya menghadap ke arah 2 makam yang baru saja selesai ditutup.

Jemarinya terus bergerak meniti butiran tasbih di tangan kanan.

Mendadak muncul asap tipis (awalnya saya mengira itu adalah kabut yang terkena sinar lampu senter) dari 2 makam yang baru saja kami tinggalkan. Asap itu kemudian bergerak ke arah pintu masuk komplek pemakaman. Aneh, karena saat itu sama sekali tidak ada angin. Asap tersebut bergerak seperti seekor ular yang sedang melata. Mata kami mengikuti terus kemana arah asap bergerak. Sayang, pekatnya malam seolah menelan asap dan kami kehilangan jejak.

Pak Kyai memanggil kami berkumpul kembali. Beliau meminta makam digali lagi.

Selapis demi selapis tanah digali. Perlahan, kayu padung penutup liang lahat mulai muncul. Setelah semua kayu padung telihat, Pak Kyai meloncat masuk ke dalam lubang makam dan berdoa. Beliau lalu mengangkat 2 lembar kayu padung di bagian paling atas dan meletakannya di sisi kanan. Pak Kyai kembali menengadahkan tangan, memohon perlindungan Allah SWT. Usai berdoa, beliau berlutut dan membungkuk, mendekati jenazah Mak Unyeh. Perlahan, kain kafan mulai dibuka.

“Masya Allah…! Astaghfirullahal ‘adzim…!” Semua yang hadir berteriak kaget.

Dari balik kain kafan muncul batang pisang. Ya, betul batang pisang.

Pak Kyai merapikan kembali kain kafan Mak Unyeh, lalu pindah ke makam Teh Siti. Prosesi yang sama diulangi sekali lagi. Hasilnya pun sama. Alih-alih wajah Teh Siti, kami kembali melihat batang pisang dari balik kain kafan.

Pak Kyai memerintahkan makam kembali ditutup. Sambil memandangi butiran tanah mengisi lubang makam Mak Unyeh dan Teh Siti, saya membacakan Al Fatihah dan Al Ikhlas untuk mereka bertiga. Semoga arwah mendapat ketenangan dalam istirahat abadinya.

Para penggali kubur masih menimbun makam dengan tanah ketika samar-samar telinga saya menangkap suara derap langkah kuda. Saya menatap Reza dengan pandangan bertanya, apakah dia juga mendengar yang saya dengar. Reza mengangguk kecil. Dia juga mendengar. Seseorang mendadak berteriak seraya menunjuk ke pintu masuk komplek pemakaman. “Eeee.. ta… Eta nnaaooon?!”

Kami sontak memandang arah yang ditunjuk. Dari tengah keremangan dini hari, muncul bayangan 2 ekor kuda. Di punggung kuda, masing-masing 2 orang… Satu orang penunggang dan satu orang yang duduk di belakang penunggang. Tunggu… Di kuda yang terakhir, penumpangnya terlihat seperti menggendong bayi dalam pelukannya. Kedua kuda tersebut langsung melesat, seolah terbang, dan menghilang dari pandangan kami.

Pak Kyai mengumpulkan kami dan berpesan agar apa yang kami alami dan lihat barusan bisa menjadi pelajaran. Beliau juga berpesan jangan menambah-nambahi kejadian malam ini dengan bumbu-bumbu cerita yang tidak perlu. Namun, jauh lebih baik lagi jika tidak membicarakannya. Kasihan para almarhumah, tidak perlu lagi menambah penderitaan mereka.

Kejadian itu sangat membekas di benak kami, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Ketika reuni untuk pertama kalinya, sekitar 5 tahun sesudah kelulusan, hal pertama yang kami kenang adalah tragedi keluarga Mak Unyeh.

Beredar kabar bahwa Mak Unyeh, Siti dan sang bayi menjadi tumbal pesugihan yang dilakukan oleh suami-suami mereka. Pesugihan apa namanya, kami tidak tahu, dan tidak tertarik ingin tahu. Hanya saja, sampai acara tahlilan 7, 40 dan 100 hari, baik suami Teh Siti maupun suami Mak Unyeh, tidak pernah datang. Bahkan, mereka tidak pernah lagi muncul di desa tersebut.

Post a Comment

 
Top