`
Misteri Pengalaman Ibu Winarsih Naik Bis Hantu Jurusan Banyuwangi Surabaya


Kisah  Pengalaman Misteri  naik bis hantu yang dialami ibu Winarsih yang asli Banyuwangi dan bekerja di Sidoarjo berikut ini Kisahnya :

Ketika masih berstatus belum menikah, sekitar tahun 1997an, saya pernah bekerja di sebuah pabrik roti yang terletak di daerah Waru, Sidoarjo. Karena saya masih berstatus karyawan baru di pabrik tersebut maka saya belum memiliki tempat kos yang tetap, sehingga saya menumpang di rumah kos teman di Waru yang persis di sebelah timur terminal bis Purabaya atau biasa disebut terminal Bungurasih di selatan Surabaya.

Pada saat belum memiliki tempat kos tetap, saya sering pulang pergi dari Surabaya (bungurasih) ke Banyuwangi, hampir 2 hari sekali saya pulang karena saya harus memindahkan sedikit demi sedikit barang-barang saya di rumah seperti pakaian, kipas angin, serta prerlengkapan lain yang saya perlukan untuk tinggal rumah kos di Waru.

Baca Uga : 

Pada suatu malam hari ketika saya sedang berada di Banyuwangi dan hendak pergi ke Surabaya, saya membawa barang-barang yang lebih banyak dari biasanya. Saya membawa sebuah tas besar yang berisi pakaian serta barang-barang perlengkapan kerja dan juga membawa makanan sebagai oleh-oleh untuk teman-teman saya di kos-kosan. Saya berangkat dari rumah dengan diantar oleh tetangga saya yang bekerja sebagai tukang ojek untuk pergi ke tempat yang biasa saya gunakan mencegat bis.

Pada malam hari pukul 20.30 (jam setengah 9 malam), saya tiba di tempat yang biasa saya gunakan untuk mencegat bis jurusan Banyuwangi – Surabaya. Pada saat itu sedang hujan gerimis dan malam itu adalah malam jum’at legi. Sebenarnya keluarga saya melarang saya bepergian pada malam jum’at legi karena hari itu adalah hari keramat menurut keluarga saya, mereka menyarankan saya agar berangkat besok pagi-pagi hari saja untuk menghindari malam jum’at legi.

Namun karena saya sebagai karyawan baru dan takut terlambat tiba di tempat kerja, maka saya memaksakan diri berangkat malam itu juga. Malam ini suasana terlihat sangat sepi dari biasanya karena sudah larut malam dan sedang terjadi hujan gerimis. Repotnya lagi saya tidak membawa payung karena ketika berangkat dari rumah cuaca masih cerah. Malam ini benar-benar sepi dan tidak ada seorangpun terlihat kecuali hanya kendaraan-kendaraan yang melintas.

Sekitar 1 jam lebih saya menunggu bis, akhirnya bis warna putih jurusan Banyuwangi – Surabaya yang saya tunggu-tunggu lewat dan saya langsung menyetopnya. Setelah bis berhenti, saya langsung naik dan masuk ke dalam bis untuk mencari tempat duduk sambil sedikit menggigil kedinginan karena terkena hujan gerimis.

Rupanya bis tersebut penuh dengan penumpang sehingga saya harus memeriksa bangku-bangku satu persatu untuk mencari tempat duduk, dan akhirnya saya mendapat sepasang bangku kosong yang berada di bagian tengah bis. Lumayan, saya bisa meletakkan tas besar saya di bangku satunya di samping saya. Saya melihat jam menunjukkan pukul 23.00 atau tepat jam 11 malam.

Beberapa saat setelah saya selesai manata diri dan bis telah memulai perjalanan, saya mulai merasakan suatu keanehan. Saya melihat semua penumpang bis tersebut tertidur pulas dan mereka semuanya menggunakan pakaian putih serta wajahnya ditutup kain putih miliknya masing-masing. Saya sempat mengira mungkin para penumpang ini adalah sebuah rombongan wisata dari Bali dan sedang kelelahan sehingga mereka tertidur pulas. Hanya sopir dan seorang kondektur  saja yang saya lihat tidak tidur.

Beberapa saat kemudian sang kondektur bis mendekati saya dengan menyodorkan karcis, lalu membayarnya dengan uang pas sebesar 3 ribu rupiah seperti biasanya. Anehnya lagi, kondektur tersebut selalu memalingkan muka dan tidak mau memandangi saya, serta ia tidak mengucapkan kata-kata sedikitpun.

Baca Uga : 

Di dalam bis ini sama sekali tidak ada suara orang berbicara seperti bis pada umumnya. Tapi saya memaklumi hal ini karena semua penumpang tertidur kelelahan sehingga mungkin sang kondektur tidak berani bersuara agar tidak mengganggu penumpang. Saya pun ikutan diam membisu dan tidak berani bersuara juga karena saya khawatir penumpang lain terganggu, lantas saya hanya bisa duduk, diam, dan delog-delog keheranan.

Akhirnya bis yang saya tumpangi ini tiba di Surabaya dan masuk terminal Bungurasih di Waru, Sidoarjo. Namun saya merasakan ada suatu keanehan lagi, yaitu bis yang saya tumpangi ini tidak berhenti di jalur yang biasanya digunakan untuk menurunkan penumpang, tetapi berhenti di tempat lain yang tidak jauh dari pos satpam atau securirty terminal. Saya pun tidak banyak bertanya ke kondektur mengapa saya diturunkan di tempat ini, lantas saya langsung turun dengan membawa tas besar serta barang-barang saya lainnya.

Ketika saya turun bersama barang-barang saya, tiba-tiba pak satpam yang sedang jaga di pos tersebut menghampiri saya dengan terburu-buru. Lantas ia bertanya kepada saya dengan suara sedikit gemetaran seperti orang ketakutan.

“mbak, mengapa penumpang bisnya kok seperti pocongan semua?”

Maka saya langsung menoleh ke arah bis warna putih yang baru saja saya tumpangi tersebut, dan saya melihat penumpang bis tersebut ternyata semuanya adalah hantu pocong dan mereka semuanya memandangi saya dengan mata melotot. Akhirnya saya langsung pingsan dan terjatuh.

Baca Uga : 

Beberapa menit kemudian saya tersadar dan telah berada di suatu ruangan dengan di rubung oleh orang banyak. Lalu saya diberi minum air putih berisi jampi-jampi. Beberapa orang menanyakan kepada saya apa yang baru saja terjadi, dan saya menceritakan kepada mereka apa yang baru saja saya alami. Ternyata saya baru saja naik bis hantu dari Banyuwangi ke Surabaya.

Lalu saya melihat jam tangan saya menunjukkan pukul 23.15 atau jam 11 lebih 15 menit. Padahal saya mulai menaiki bis tersebut di Banyuwangi pada pukul 23.00, tetapi tiba di Surabaya pada pukul 23.15, ternyata hanya lima belas menit perjalanan. Itupun tidak termasuk waktu saat saya digotong oleh orang-orang ke sebuah ruangan di terminal Bungurasih. Berarti saya naik bis hantu hanya kurang dari 15 menit, mungkin hanya beberapa menit saja mereka telah membawa saya dari Banyuwang ke Surabaya.

Kemudian saya memeriksa karcis yang diberikan oleh kondektus bis hantu yang saya tumpangi tadi, dan ternyata karcis tersebut adalah milik bis yang beroperasi pada tahun 1965 dimana di situ tertulis nomor polisi kendaraan. Setelah diperiksa oleh beberapa petugas terminal, bis pemilik karcis tersebut telah mengalami kecelakaan masuk ke jurang pada malam hari di sebuah hutan di Banyuwangi dan semua penumpang beserta awak bis tersebut mati semua.

Rupanya bis beserta para penumpang serta para awak bis yang mengalami kecelakaan tersebut kini menjadi hantu dan mengantarkan saya dari Banyuwangi ke Surabaya hanya dalam hitungan detik. Saya sangat takut dengan kejadian itu, namun sekaligus saya berterima kasih kepada bus hantu beserta kru-nya karena mereka telah mengantarkan saya dari Banyuwangi ke Surabaya dengan sangat cepat melebihi kecepatan pesawat terbang super sonik sehingga besoknya saya tidak terlambat masuk kerja.

Pengalaman saya ini mungkin bisa bermanfaat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dan selalu berdoa setiap kali kita hendak bepergian maupun sedang menempuh perjalanan kemanapun, terutama perjalanan pada malam hari.

Post a Comment

 
Top