`
Tragedi Dewi Taroro Dibalik Misteri dan Angkernya Curahtangis Baluran yang Selalu Minta Tumbal


Salah satu musibah kecelakaan dahsyat yang terjadi di Jalur Tengkorak sepanjang hutan Baluran akibat dendamnya Dewi Taroro Hutan Baluran selama ini dikenal selain rawan kecelakaan juga menyimpan selaksa misteri. Apalagi di dalamnya ada sebuah tebing curam nan angker, yang lebih dikenal sebagai “Curahtangis” yang kedalamannya mencapai 18 meter lebih. Ikhwal sejarah munculnya nama Curahtangis selama ini belum pernah terungkap, bahkan menjadi rahasia besar bagi masyarakat umum. Konon ada sejarah kelam yang dialami oleh seorang gadis nan penuh misteri. Seperti apakah?

CURAHTANGIS.

Sekilas, sepatah nama tersebut kedengarannya menyebabkan bulu kuduk berdiri. Namun nama Curahtangis berada di “Jalur Tengkorak” hutan Baluran yang masuk kawasan konservasi Taman Nasional (TN) Baluran Kab. Situbondo – Jawa Timur. Namun wilayah hutannya dalam pengelolaan Perum Perhutani KPH Banyuwangi Utara.

Sepanjang “Jalur Tengkorak” ditumbuhi pepohonan jati nan lebat, pun terdapat puluhan tikungan tajam di kanan kirinya. Dengan keberadaan jalannya yang naik turun dan bergelombang, hampir dapat dipastikan setiap hari selalu ada kecelakaan baik kecelakaan ringan hingga merenggut korban dengan nyawa melayang.
Antara Curahtangis dan Jalur Tengkorak merupakan kristalisasi yang tak dapat dipisahkan. Karena Curahtangis berada di pertengahan Jalur Tengkorak Hutan Baluran, yang ujung timur masuk lintasan jalur perjalanan Kota Gandrung, Banyuwangi – Situbondo.

Di perbatasan hutan Baluran paling timur tersebut, ada legenda yang merakyat. Konon, dulu ditemukan buaya besar mati yang diabadikan menjadi nama Desa Bajulmati, Kec. Wongsorejo – Banyuwangi. Oleh masyarakat Desa Bajulmati, jasad buaya tersebut dipindah ke utara sungai. Sehingga sampai sekarang diabadikan sebagai nama Desa Batangan Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo.

Menurut Ki AgengWangsadird­ja mengisahkan, terkait keberadaan Curahtangis konon ada kisah misteri yang selama ini selalu meminta korban. Di antaranya, seperti ada bus pariwisata yang ditubruk trailer dari belakang merenggut korban 7 nyawa, tabrakan beruntun, serta kecelakaan lainnya yang tak dapat dihitung lagi dengan jari.

“Angkernya Curahtangis yang selalu memakan korban pelintas Jalur Tengkorak hutan Baluran itu memang berkaitan erat dengan sebuah mistis. Sekitar 200 tahun yang silam, ada sebuah kisah tragis yang tak dapat dilupakan begitu saja. Konon kejadiannya, ada seorang gadis cantik bernama Dewi Taroro dianiaya secara tragis oleh pacarnya sendiri, lalu dilempar ke dasar Curahtangis,” kata Ki Ageng mengawali kisahnya kepada Dhuta Ekspresi.

Waktu itu, lanjutnya, Dewi Taroro diajak pacarnya berjalan-jalan di seputar hutan Baluran. Dijelaskannya, ketika sedang berdiri di tepian Curahtangis, tiba-tiba Dewi Taroro didorong pacarnya dengan kerasnya hingga terlempar ke bawah Curahtangis yang kedalamannya kurang lebih 18 meter, dan dipenuhi bebatuan besar.

“Tragisnya lagi, kepala Dewi Taroro pecah membentur bebatuan. Dan itu tampak terlihat dengan jelas dari atas Curahtangis. Nah, ketika masyarakat Bajulmati dan Batangan berduyun-duyun hendak mengangkat mayat Dewi Taroro, namun beberapa orang yang turun sesampainya di dasar Curahtangis tempat Dewi Taroro kaget bukan alang kepalang. Karena, dengan pelan-pelan namun pasti jasad Dewi Taroro menghilang, dan tak membekas seperti tak pernah ada kejadian apa pun,” ungkap Ki Ageng dengan pandangannya menerawang.

Ditambahkannya,­ bukanlah hal yang mengherankan jika Curahtangis terkenal angker dan selalu minta korban yang kejadiannya selalu beraneka ragam. Ada kalanya jalan itu kelihatan lurus padahal sebenarnya tikungan. Bahkan juga ada sewaktu melewati jalur yang melintas Curahtangis tiba-tiba ada seorang perempuan akan menyeberang di tengah jalan.

“Ada juga peristiwa yang dialami seorang pengendara ketika masuk di tengah jalan tikungan Curahtangis itu, tiba-tiba lampu kendaraannya mati seketika. Dan banyak lagi kejadian aneh dan tragis lainnya yang dialami banyak orang. Jadi kecelakaan-kece­lakaan di Jalur Tengkorak hutan Baluran yang sering berakibat korban nyawa itu merupakan wujud tumbal dendam kesumatnya Dewi Taroro. Karena Dewi Taroro telah dikhianati dan dilempar ke dasar Curahtangis oleh pacarnya sendiri,” imbuhnya.

Ada kalanya alunan suara tangis nan mengharukan kerap terdengar dari kesunyian yang senantiasa meronai Curahtangis. Bahkan kadang ada bayangan seorang dara yang berkelebat di seputar Curahtangis, atau hal-hal ganjil lainnya. Siapa pun yang mendengar suara tangis atau menjumpai bayangan tersebut, kerapkali menjadi awal pertanda adanya sebuah petaka. Entah itu kecelakaan biasa, hingga musibah yang merenggut nyawa seseorang.

Baca Uga : 

Lain halnya menurut Mbah Sulaiman (78 th), warga Wongsorejo – Banyuwangi mengaku kurang tertarik untuk bercerita soal Dewi Taroro. Namun ia lebih suka berkisah tentang peristiwa yang memilukan bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Yakni, semasa meledaknya peristiwa G/30-S/PKI sekitar 1965-an. Karena Curahtangis menjadi tempat pembuangan para mayat.

“Saat itu banyak mayat-mayat yang dicap sebagai orang PKI yang dibunuh dan dilemparkan begitu saja ke dasar Curahtangis. Jumlahnya pun tak dapat terhitung lagi, sekitar ratusan bahkan mungkin ribuan mayat yang dibuang. Jika saya mengingat kejadian itu (pembuangan mayat, red.) saya merasa ngeri sendiri,” kenang Mbah Sulaiman.

Tidak hanya itu saja, lanjutnya, pada 1980-an pun juga ada peristiwa yang tak kalah mengerikan. Yakni, adanya operasi Petrus (penembak misterius) yang sasarannya para penjahat dan orang-orang yang dicurigai tukang teluh. Bahkan para korban Petrus itu tidak hanya dibuang dan dilempar ke dasar Curahtangis, namun juga tergeletak di sepanjang ruas kiri kanan jalan hutan Baluran.

“Dan pada masing-masing mayat ada uangnya sekitar lima ribu, ya mungkin memang sengaja disiapkan untuk ongkos ngubur mayat-mayat tersebut. Jadi jangan heran kalau di sepanjang jalan hutan Baluran terutama Curahtangis kelihatan angker serta banyak terjadi kecelakaan dan selalu minta korban. Ya, karena itu tadi ….,” ungkapnya tanpa mau meneruskan ucapannya.

Sedangkan Jumat Pahing, 24 juni 2005 lalu, merupakan hari yang nahas bagi rombongan Tabloid Umum Dhuta Ekspresi. Karena ketika melintas di jalur tengkorak hutan Baluran, tak jauh di timur jembatan Curahtangis, rombongan Dhuta Ekspresi mengalami sebuah tragedi (baca: musibah) yang takkan terlupakan.
Bagaimana ceritanya? Ketika sepulang dari konsolidasi dengan Biro Dhuta Ekspresi di Bondowoso, sekitar pukul 21.15 WIB, dengan kecepatan kurang lebih 50 km perjam, setelah melintas di Curangtangis tiba-tiba ban belakang sebelah kanan terlepas.

Ternyata as gardannya patah. Meski di depannya arah berlawanan ada iring-iringan truk gandeng, namun kendaaran Jeep CJ5 masih dapat dikendalikan.
Akan tetapi kurang lebih 400 meter dengan kecepatan yang sama, kendaraan yang tanpa ban belakang sebelah kanan tadi terus dibawa minggir. Selama jalan tadi ada percikan-percik­an api berhamburan yang keluar dari sandaran velg band.

“Awalnya, saya memang mencium bau mayat busuk ketika hendak melintasi Curanhtangis. Lalu menghilang, tapi kurang lebih 700 meter bau busuk mayat itu muncul lagi. Tak lama menghilang lagi. Dan setelah berjalan kurang dari satu kilo meter, bau busuk mayat yang lebih menyengat muncul lagi. Tiba-tiba ban belakang sebelah kanan lepas. Syukurlah, walau di arah depan ada iring-iringan truk gandeng kebetulan saya yang memegang kendali stir berusaha tetap tenang sambil terus berdoa. Alhamdulillah, selamat dan tak ada korban,” kenang Denny Sun’anudin mengenang.

Post a Comment

 
Top