`
Misteri Sosok Putih Bearoma Bedak Bercampur Amis Darah di Pematang Sawah 


“kalian pernah mencari belut atau katak di pematang sawah di malam hari?” tanya pak Supardi. Dia mengangkat cangkir kopi dimeja dan melahapnya. – Kami menggeleng tegas

“Hmmm… kalo begitu, jangan kalian lakukan” – tambahnya.

Suaranya terdengar sedikit gentar dan sudut mata Pak Supriyadi menajam. Kami tahu dia sedang mencoba mengingat sebuah peristiwa yang sebenarnya ingin dia pendam dalam-dalam. Jauh di dalam lumbung berisi jeruji besi di memori ingatannya. Sehingga sejurus kemudian dia memberanikan diri untuk berbagi kisahnya. Cerita hantu yang bermula dari aroma bedak dan amis ketika beliau dan teman-temannya bermain di pematang sawah di kala malam. Cerita yang terjadi jauh sebelum bahkan kami terlahir di dunia ini.

Cerita ini terjadi ketika Pak Sapardi masih tinggal bersama orang tuanya di daerah Sewon, Bantul. Mungkin bagi kalian yang pernah mengunjungi daerah Sewon, maka kalian akan menemui hamparan sawah yang luas menjamuri daerah ini. Terlebih cerita hantu dari pengalaman pak Supardi ini terjadi ketika dia berumur 12 tahun.

Bantul ketika beliau berumur 12 tahun merupakan tempat yang cukup seram. Kampung yang dipenuhi dengan sawah itu masih sangat minim penerangan dan banyak mitos-mitos kepercayaan masyarakat yang masih sangat kental disana. Daerah itu juga dikenal sangat miskin dizaman dahulu karena banyak penduduknya hanya bermata pencaharian sebagai tani.

Karena keadaan yang cukup memprihatinkan itu. Biasanya ada sekumpulan anak-anak yang berinisiatif untuk mencari belut untuk dimasak dirumah atau menangkap katak dan tokek untuk dijual di pasar. Pak Supriadi merupakan salah seorang anak yang juga ikut dalam kegiatan tersebut.

“Ah saya ingat, dulu sering bermain di pematang sawah untuk menangkap belut dan katak bersama 3 teman yang bernama Aji, Joko dan Parwi. Biasanya kami berangkat sehabis sholat isya” – ucap pak Supriadi

Kegiatan itu sepertinya sudah menjadi aktifitas rutin pak Supriadi bersama ketiga temannya waktu itu. Hampir setiap habis sholat Isya dia dan rekan-rekannya akan menuju pematang sawah. Pak Supriadi mengatakan bahwa zaman sekarang lebih enak ketika ingin mencari belut atau katak, karena lebih praktis dengan bantuan alat setrum. Dizaman beliau dahulu, perburuan hanya menggunakan jaring dan lampu minyak seadanya.

Agar perburuan yang dilakukan malam itu lebih efektif keempat orang itu kemudian berpencar menjadi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari 2 orang. Kebetulan pak Supriadi dan temannya Aji waktu itu mendapatkan jatah menyusuri saluran irigasi yang berada di bagian Selatan. Hingga kemudian mereka akan saling bertemu ditengah.

Malam semakin larut. Jam terus berdetak menunjukkan hampir pukul 9 malam. Pak Supriadi yang memiliki postur badan yang tinggi masuk ke saluran irigasi sembari merendam kedua tangannya yang memegang sebuah jaring. Sedangkan rekannya Aji bertugas menerangi dari samping.

Hanya keheningan malam dan suara kotek kodok yang bermain gemericik genangan sawah saja yang menemani kegiatan perburuan Pak Supradi bersama temannya kala itu. Kegelapan malam dan nyenyat menjadi sebuah ceracau kosong yang bertegur dengan lirih angin malam. Namun ada satu bau yang cukup asing dalam keadaan sunyi malam itu.

“Di kowe mambu bedak ora? (Di, kamu mencium aroma bedak tidak?)” tanya Aji yang sedari tadi menenteng lampu minyak sebagai penerangan. Dia yang pertama menyadari hal itu.

“Iyo ki… soko ngendi yo kok ono mambu bedak ngene? (iya nih, darimana asalnya ya kok ada bau bedak begini)” – ujar Pak Supriadi kecil sembari mengendus-endus kemudian. Rupa-rupanya mereka berdua mencium aroma bedak itu.

Pak Supriadi memangkukan tangannya di dagu. Terasa benar jejak luruh yang menyusup pada ekspresinya yang diam. Perasaan nostalgia itu berbatas rasa ngeri. Dia berhenti sejenak ketika sampai pada bagian cerita tentang aroma bedak itu. Menyulut kembali rokoknya yang telah pudar, lalu berkata:

“itu bukan aroma bedak biasa. Ada sedikit bau anyir yang samar-samar menyengat hidung kami” – ucapnya setelah menepuk ujung rokok keatas asbak.

“Maksudnya?” – kami melayangkan tanya penuh rasa ingin tahu.

“Jika engkau pernah ikut serta dalam prosesi pemakaman, dari proses memandikan jenazah, membungkusnya dengan kain kafan hingga menguburkan… engkau akan familiar dengan aroma ini” – tambah pak Supriadi memecah rasa ingin tahu kami.

Aroma bedak yang tercampur dengan bau anyir itu adalah bau bedak yang biasa digunakan untuk mayat. Kami menelan ludah kami sendiri. Bergidik tentang penuturan yang Pak Supriadi berikan. Cerita pun kemudian berlanjut.

Aroma bedak itu semakin menyengat indera. Aji dan Pak Supriadi menengok ke kanan dan ke kiri penuh dengan rasa ingin tahu dimana sumber aroma tersebut berasal. Beberapa kali Aji mengayun-ayunkan lampu minyak ditangannya bersama pandangannya yang melebur lembar-lembar muram malam itu. Pak Supriadi naik keatas badan jalan keluar dari saluran irigasi. Sesuatu dalam hatinya mengatakan untuk bersiap.

Mereka berjalan selangkah demi selangkah kedepan. Inci demi inci jalan dihadapan menjadi lebih jernih karena percik terang lampu minyak mulai semerbak mengusir gelap di depan. Tiba-tiba Pak Supriadi merasakan sebuah cengkeraman kuat dari tangan temannya dibajunya. Bibirnya bergetar tak berjeda. Tangannya menunjuk kesuatu arah didepan mereka.

“Di… di… opo kuwi di??” – Aji menunjuk ketengah-tengah pematang sawah dengan tangannya yang sedang tremor

cerita hantu pocong pematang sawah dengan aroma bedak dan bau anyir

Pak Supriadi kecil membelalakkan matanya melihat kearah yang ditunjuk temannya waktu itu. Kaget bukan kepalang! Berdiri satu sosok tinggi berwarna putih yang dengan sombongnya berdiri terhuyun-huyun karena terpaan angin. Sosok itu adalah Hantu Pocong!

Sontak setelah melihat sosok pocong menyeramkan yang merupakan sumber aroma bedak bercampur bau anyir itu. Pak Supriadi kecil dan temannya langsung berlari sambil berteriak “pocoong! Pocoong!” – Mereka berdua berlari tunggang-langgang dengan diliputi perasaan nanar dan ngeri.

Tapi suatu fenomena aneh terjadi. Ketika Pak Supriadi kecil dan temannya berlari, entah kenapa teman pak Supriyadi yang bernama Aji ini tiba-tiba menjadi sangat cepat dalam berlari. Bahkan saking cepatnya Aji berlari, Pak Supriadi sampai tertinggal jauh dibelakang.

“larinya Aji teman saya entah kenapa begitu sangat cepat sampai jauh dia meninggalkan saya! Tapi ketika saya sadar. Ternyata bukan Aji yang larinya sangat cepat, melainkan langkah kaki saya yang melambat berat. Entah apa yang terjadi saat itu” – Jelas Pak Supriadi melanjutkan ceritanya kepada kami.

Langkah kaki seribu Pak Supriadi seolah-olah ditahan oleh sesuatu. Kakinya seperti mengambang di udara. Tentu saja Pak Supriadi sangat panik dan meronta-ronta sambil berteriak-teriak minta tolong. Bau Bedak semakin menyengat di hidung dan ketika dia menegok kebelakang. Ternyata sosok pocong tersebut semakin mendekat sedikit demi sedikit dengan melompat-lompat. Langkah kaki yang melambat itu membuat sosok pocong itu semakin mendekat menyusul pak Supriadi. Dia semakin dekat… 10 meter… 7 meter… 5 meter… 3 meter… hingga akhirnya berdiri tepat disamping pak Supriadi.

Ditengah penuturan cerita hantu itu Pak Supriadi kemudian terdiam. Dia memejamkan matanya. Terdengar lirih gemeretak gerahamnya menahan rasa takut. Agaknya cerita hantu itu merupakan pengalaman misteri yang teramat sangat menyeramkan bagi Pak Supriadi. Kami gelisah dengan rasa ingin tahu kami, namun enggan untuk meniginterupsi jelang jeda yang sedang terjadi kala itu.

Pak Supriadi melenguh kemudian bernafas panjang. “Itu adalah kali pertama saya bisa melihat dengan dekat sosok pocong dalam hidup saya… wajahnya hitam legam tertutup kain kafan yang kotor dengan bercak-bercak kuning masam tanah” – ucap Pak Supriadi.

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya pak?” tanya kami lagi

“sosok pocong itu tidak berhenti, dia terus melompat jauh kedepan hingga akhirnya tumbang diatas tanah dan menghilang begitu saja, setelah itu langkah kaki saya kembali normal dan langsung berlari kembali ke rumah. Setelah itu saya sakit demam parah selama seminggu” – Terang Pak Supriadi

Semenjak saat itu dia dan kawan-kawannya tidak lagi mencari belut dan katak di pematang sawah dimalam hari. Mereka masih melakukan hal itu, namun lebih memilih melakukannya setelah pulang sekolah di siang hari.

Post a Comment

 
Top