`
Kisah Penjaga Malam Tentang Keangkeran Menara Saidah


Pria yang bekerja sejak 2001 sampai 2004 itu pernah merasakan hal aneh saat piket malam. Heru, yang berjaga bersama temannya, Egi, melihat komputer menyala sendiri di lantai 5.

"Saya waktu sama Egi, saya berdua jaga, ngontrol, pas di lantai 5, di meja pajak. Saya pikir ada yang lembur. Ya kita harus cross-check kan. Karena kalau lembur harus laporan. Saya juga lift, kemudian coba GI," terangnya.

Heru kaget karena tak ada jadwal lembur dari pekerja pada malam itu. Dia pun tidak mendapatkan serah-terima tanda lembur yang biasa diberikan jika pegawai bekerja hingga larut malam.

"Kita nggak ada serah-terima. Karena kan ada ruang meja gitu. Mungkin bekas orang rapat, gelas-gelas, diketuk terus. Posisi kekunci. Laporan komandan. Ini lantai 5 ada yang masih aktif gitu kan. Sedangkan lampu kan sudah mati. Takutnya kebobolan kan," imbuhnya.

Selain itu, Heru bingung melihat komputer yang menyala sendiri di lantai 5 dan tampak seseorang yang berada di ruangan, padahal listrik telah dimatikan. Tubuhnya merinding, namun dia terus memastikan karena takut ada maling yang masuk ke ruangan.

"Ya sudah kita naik bareng, memang tuh kayak komputer itu kayak yang ada, kalau sentral mati, otomatis nggak nyala, itu saya merinding, gimana ya, dibilang percaya nggak percaya," ujarnya.

Malam berlalu. Heru bersama temannya mencoba memastikan kembali peristiwa yang dialaminya. Dia mengecek ke petugas piket dan memang tidak ada jadwal lembur.

"Tapi pas besoknya pas serah-terima, nggak ada orang sama sekali," kata Heru.

Baca Uga : 

Tak hanya itu, Heru juga pernah melihat teman piketnya kerasukan saat jaga malam. Awalnya temannya itu bengong. Pikirannya kabur, entah memikirkan apa.

"Dia jaga malam, mungkin dia lagi pikiran bengong kali ya, ngelantur, ya kita namanya teman, ya nyamperin ya, ada masalah apa?" ucap Heru.

Dia lalu menghampiri temannya untuk bertanya soal masalah yang sedang dihadapinya. Namun dia tak habis pikir, temannya itu justru meminta kopi panas dan air dingin. Takut terlalu melantur, Heru membawa temannya itu ke rumah Pak Haji.

"Akhirnya ngomong ngelantur, dikasih kopi, minta air dingin, kalau kita bingung kan, es sama kopi gimana rasanya. Kayak gitu-gitu. Ibaratnya gitu. Akhirnya bawa ke Pak Haji belakang," ujarnya.

Percaya atau tidak, menurut Heru, cerita mistis sangat kental melekat di gedung tersebut. Bahkan hingga sekarang sebagian masyarakat sengaja datang hanya untuk uji nyali di menara itu.

Post a Comment

 
Top