`
Mobilku Menabrak Anjing Jadi-jadian Di Hutan Jati Balapulang Slawi


Peristiwa ini terjadi 2 tahun lalu dibulan Juli. Aku dan dua orang teman pergi mengunjungi teman masa SMA kami, yang bernama Agus, yang tinggal di daerah pedesaan Balapulang Slawi, Desa tempat tinggal teman kami banyak melewati hutan jati, berjarak satu jam lebih dari kota Slawi, Tegal.

Kami bertiga dijamu dengan suguhan istimewa, kita ngobrol mengenang saat indah masa SMA dulu hingga larut malam, dan aku serta teman-temanku memutuskan untuk pulang. Dewi, salah satu temanku, tertidur di kursi depan (mungkin terlalu capek), Puguh temanku yang lain, duduk di kursi belakang sambil memainkan game di ponsel, Aku, tentu saja, kebagian tugas mengemudi.

Ketika, mobil kami melewati jalanan gelap yang diapit deretan pepohonan hutan jati. Awal masuk hutan jati semuanya baik-baik saja, suasananya tenang, kecuali suara deruman mobil Avanza dan radio yang disetel dengan volume rendah. Mendadak, mobil Avanzaku berguncang keras, seolah aku menabrak sesuatu. Puguh memekik, tapi Dewi masih saja tertidur. Aku langsung menginjak rem sampai mobil avanza berhenti mendadak. Sambil bernapas keras-keras, aku berteriak

"apa yang terjadi!?"

Puguh melongok keluar lewat jendela dan mendesah kaget, dan berseru bahwa aku menabrak seekor anjing. Aku melongok lewat jendela, dan benar saja, seekor anjing terbaring beberapa meter di belakang mobil avanzaku. Puguh yang dikenal penyayang binatang, agak kesal memarahiku.

Ia sudah akan membuka pintu untuk menolong anjing itu, namun aku menghentikannya. Setelah kekagetanku pudar, aku mulai merasa ada yang tidak beres. Aku bukannya mau menyombong, tapi aku menganggap diriku pengemudi yang cukup baik. Mataku selalu memerhatikan jalan, dan aku ingat aku tidak melihat anjing di jalanan. Oke, memang saat itu gelap, tapi aku tidak melihat ada anjing yang tersorot cahaya lampu mobilku sebelum aku menabrak.

Aku mengamati anjing itu lagi, hanya dibantu penerangan lampu belakang mobilku. Anjing itu cukup besar, mungkin jenis golden retriever. Satu hal membuatku tertarik: ekor anjing itu bergoyang-goyang. Aku bukan ahli hewan, tapi aku yakin hal terakhir yang akan dilakukan seekor anjing yang tertabrak mobil adalah menggoyang-goyangkan ekornya. Setelah berpikir-pikir, aku memutuskan menginjak gas dan ngebut pergi.

Puguhi memaki-makiku dan menyuruhku kembali, tapi aku bilang ada yang tidak beres. Ia masih marah, tapi langsung terdiam ketika menoleh ke jendela belakang.

"Apa-apaan itu...?" Tanyanya dengan suara gemetar.

Baca Uga : 

Aku melihat ke belakang lewat spion mobil. Walaupun gelap, aku bisa melihat bayangan tiga sosok berbadan besar keluar dari sela-sela pepohonan di pinggir jalan. Anjing itu sekarang berdiri dan melompat-lompat gembira. Ketiga sosok itu berdiri di tengah jalan dan memerhatikan kami saat aku memacu mobilku makin jauh. Puguh dan aku tidak bicara selama perjalanan pulang.

Baru beberapa hari kemudian aku dan Puguh kembali main kerumah Agus, kami menceritakan pengalaman saat pulang dari rumahnya, saat Agus bertanya lokasi dimana kejadian tersebut, ia terdiam dan kaget waktu aku beritahu lokasinya.

Penasran atas perubahan sikap Agus membuat kami penasaran dan bertanya penuh selidik.

" kowen kenang apa gus, bisane kayong keweden" (kamu kenapa gus, kok kaya ketakutan).

Sesaat Agus diam dan memandang kami bergantian, sambil menghela nafas ia kemudian menjawab.

"untung baelah kowen ora sampe mudun sing mobil, bisa pada ora slamet kabeh" (untung saja kalian enggak turun dari mobil, bisa celaka kalian semua).

Kemudian Agus menceritakan keangkeran hutan jati yang kami lewati, kalau disana sering terjadi penampakan dan membuat kendaraan menabrak karena sopirnya kaget dan ketakutan. Bahkan ada kejadian seorang tamu dari warga tetangga desa, meninggal tidak wajar, mobil mereka menabrak sesuatu, karena penasran salah satu penumpangnya turun dari mobil dan melihat kebelakang mobil, setelah orang tadi kembali masuk kedalam mobil, orang tersebut hanya diam dengan wajah pucat pasi seperti ketakutan yang amat sangat.

Bahkan saat ditanya kerabatnya yang tetap duduk di mobil, dia hanya diam dengan sorot mata ketakutan, setelah sampai dirumah orang tersebut tiba-tiba kejang-kejang dan meracau tidak karuan selama setengah jam, karena ketakutan keluarganya mebawa orang tersebut ke rumah sakit terdekat. belum sampi rumah sakit orang tersebut meninggal duni.

Mendengar cerita Agus, Kami jadi merinding ketakutan, kemudian pamit pulang sebelum gelap. Satu hal yang tak kupahami: bagaimana caranya mereka membuat mobilku berguncang? Tapi yang pasti, aku masih bergidik membayangkan apa yang akan terjadi pada kami jika kami keluar dari mobil malam itu.

Post a Comment

 
Top