`
Saat Kutatap Wajah Mengerikan Hantu Wanita Muka Rata Di Gerbang Tol



Kisah ini diadaptasi dari kejadian yang pernah dialami kedua tokoh dalam cerita ini. Nama yang digunakan di sini adalah nama samaran, jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan belaka.

Wangsa pengusaha pemilik pabrik dan Yodi  adalah karyawannya, sedang dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi salah seorang rekanan mereka di luar kota Jakarta. Hari sudah menjelang malam ketika mereka berangkat pulang dari pabrik rekan bisnis mereka tersebut.

Saat itu di pabrik tersebut sudah mulai shift ketiga. Mereka berdua pulang dengan mengendarai sebuah mobil pickup (bak terbuka). Yodi yang mengemudi dan Wangsa duduk di sampingnya, mereka hanya berdua saja.

Wangsa adalah seorang pengusaha yang cerdas dan pemberani. Dia selalu mengutamakan hal-hal yang logis dalam segala permasalahan yang dihadapinya. Jika ada pernyataan yang tidak sesuai logika, pasti akan dibantahnya. Dengan kecerdasannya, Wangsa selalu bisa membuktikan bahwa segala sesuatu itu pasti sesuai nalar. Berkat pemikirannya yang logis, dia terhindar dari berbagai macam percobaan penipuan yang dilakukan orang-orang yang pura-pura mau berbisnis dengannya.

Saat ini Wangsa yang duduk di samping Yodi tidak banyak berbicara. Sepertinya dia merasa sangat capek, seharian ini aktivitasnya sangat padat. Perjalanan pulang tersebut memakan waktu lebih dari satu jam sebelum mereka sampai di gerbang tol terdekat.

Letak pabrik rekanan tersebut memang di daerah pinggiran, di mana masih banyak persawahan dan perkebunan lokal. Tambahan lagi kondisi jalan yang tidak mulus membuat perjalanan mereka terasa tidak nyaman. Yodi harus mengendarai mobil tersebut dengan ekstra hati-hati agar tidak banyak mengalami guncangan akibat jalan yang tidak rata itu.

Malam itu hujan gerimis, mereka melintasi daerah yang tampak seperti perkebunan karet. Suasana mendadak terasa mencekam. Entah kenapa Wangsa merasa merinding. Dia mencoba menenangkan dirinya.

Wangsa lalu memperhatikan jalan di depan mereka. Jalan yang gelap tanpa penerangan itu seolah tak berujung. Pohon-pohon di sisi jalan tersebut terlihat berkelebat terkena sorot lampu mobil mereka.

Tak begitu jauh di ujung jalan dekat tikungan, sorot lampu mobil mereka menerangi sesuatu. Sesuatu yang menurut Wangsa tidak lazim: seorang perempuan yang berpayung tampak sedang berdiri di sisi kiri jalan. Perempuan itu memakai baju seperti gaun panjang berwarna merah. Warna yang sama dengan warna payungnya. Rambut perempuan itu panjang dan dibiarkan lurus tergerai menutupi wajahnya.

Wangsa merasa aneh. Dia bingung melihat ada orang yang berdiri di tengah perkebunan ini pada jam seperti ini. Jam setengah sepuluh malam.

Dia melirik Yodi yang terus berkonsentrasi mengemudi.

Yodi sepertinya tidak melihat perempuan itu atau dia memang mengabaikannya.

Wangsa yang merasa penasaran bermaksud melihat seperti apa rupa perempuan itu. Mungkin dia penduduk desa di sekitar tempat ini, perempuan yang sakit ingatan atau mungkin juga orang yang sedang stres. Maka dia menunggu sampai mobil mereka melintas tepat di depan si perempuan berbaju merah itu.

Yodi terus mengemudi dengan mempertahankan kecepatannya, tidak melambat tetapi tidak juga bertambah cepat, mengingat kondisi jalan yang jelek.

Mobil mereka semakin mendekati tempat perempuan itu berdiri.

Begitu mobil tersebut melintas tepat di depan si perempuan, Wangsa yang sedari tadi penasaran, langsung menengok ke arah perempuan itu.

Ketika Wangsa memandangnya, perempuan yang sedang menunduk itu mengangkat wajahnya. Mereka saling bertemu muka. Rambut perempuan itu seperti tertiup angin, tersibak memperlihatkan wajahnya.

Baca Uga : 


Wangsa tercekat. Apa yang dilihatnya membuatnya terkejut bukan kepalang!

Wangsa melihat seorang perempuan dengan wajah kosong, tak ada apa-apa di wajahnya. Tidak ada mata, hidung, bibir, atau apa pun. Kosong!

Perempuan itu bermuka rata!!!

Di tengah gerimis malam itu, Wangsa melihat sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Membayangkan pun tidak pernah. Anehnya, Wangsa seolah-olah bisa merasakan kalau saat itu perempuan bermuka rata itu seperti sedang tersenyum mengejeknya. Perempuan itu seperti menyeringai walaupun jelas terlihat tidak ada apa-apa di wajahnya.

Wangsa ketakutan. Perempuan itu pasti bukan manusia! Tidak ada manusia berwajah seperti itu! Saking takutnya, Wangsa terdiam, tidak mampu bergerak.

Mobil terus melaju melewati tempat perempuan itu berdiri.

Beberapa saat kemudian, barulah Wangsa bisa menggerakkan tubuhnya.

Bayangan wajah yang kosong dari perempuan muka rata itu terus tergambar di benaknya. Seolah-olah mengikutinya, seolah-olah terus hadir bersamanya.

Wangsa tidak berani menengok ke belakang biarpun mobil mereka sudah berbelok dan semakin menjauh dari tempat perempuan itu berdiri.

Selama bertahun-tahun Wangsa tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini, dia yang dikenal sebagai orang yang cerdas, penuh logika, dan pemberani, sekarang merasa begitu lemas. Merasa begitu takut. Keringat tampak terus bercucuran membasahi dahinya.

Yodi tampaknya tidak memperhatikan hal itu. Dia terus berkonsentrasi mengemudi.

Wangsa yang belum bisa menghilangkan rasa takutnya hanya berdiam diri. Sosok perempuan bermuka rata itu melekat erat di pikirannya. Tubuhnya terasa lemas seolah-olah tidak bertulang. Dia bahkan tidak sanggup menggerak-gerakkan jari-jemarinya. Dadanya berdebar-debar kencang dan keringat dingin terus bercucuran di wajahnya. Padahal AC mobil itu cukup dingin, ditambah lagi saat itu sedang gerimis. Beberapa menit berlalu. Wangsa berusaha menenangkan dirinya.

Walaupun dia merasa tidak sanggup untuk bergerak, Wangsa memaksakan diri berbicara]bertanya kepada Yodi,
”Ka… kamu… tadi me-melihat perempuan berbaju merah… yang me-memakai payung… berdiri di … pinggir… jalan itu?”

Tanpa mengalihkan pandangannya, Yodi mengangguk.

Wangsa tak bisa menahan rasa takut atas apa yang dilihatnya barusan. Dia menceritakan apa yang dirasakannya itu kepada Yodi.
"Perempuan itu setan. Hantu. Aku melihatnya. Mukanya rata! Perempuan itu hantu bermuka rata!” Kata-kata itu keluar begitu lancar dari mulutnya - Wangsa mengatakan itu dengan setengah berteriak. Dia histeris. Dia hampir mengguncang-guncang bahu Yodi seandainya saja dia tidak ingat karyawannya itu sedang mengemudi.

Yodi terdiam, tidak segera menjawab. Dia kembali mengangguk. Perlahan.

“Aku juga merasa aneh, tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Di daerah sepi seperti ini memang bisa saja muncul hal-hal yang aneh,” sahut Yodi menengok sebentar ke arah Wangsa. Si pemberani itu tampak pucat pasi. Dia shock.

Yodi sering melintasi daerah semacam ini pada malam hari, jadi sepertinya dia bisa memahami apa yang dikatakan Wangsa. Dia sering mendengar cerita dan mendapat nasihat, jika sedang mengemudi melintasi daerah-daerah tertentu (atau yang biasa disebut angker), pengemudi harus tetap waspada dan berkonsentrasi mengemudi. Apa pun yang dilihatnya jangan hiraukan. Sekarang terbukti dengan kejadian yang dialami Wangsa.

“Kamu pernah melihat perempuan itu sebelumnya?” tanya Wangsa.

Yodi mengangguk.

“Kamu menengok ke arahnya?” tanya Wangsa lagi.

Yodi menggeleng.

Wangsa terdiam. Suasana di dalam mobil menjadi hening.

Kurang lebih satu jam kemudian mereka sampai di pabrik milik Wangsa. Saat itu tidak banyak buruh yang lembur sehingga suasana pabrik tidak begitu ramai. Begitu mobil selesai diparkir, Yodi segera mematikan mesin dan menunggu Wangsa keluar duluan.

“Yodi!” panggil Wangsa. “Bantu aku turun.”

Yodi agak heran mendengar permintaan Wangsa. Namun demikian dia tidak banyak bertanya. Dia segera keluar mobil menuju ke pintu kiri dan memapah Wangsa, membantunya keluar dari mobil.

Wangsa ternyata belum bisa menghilangkan rasa takutnya. Dia merasa lemas, badannya tidak sanggup berdiri. Satpam yang melihat Yodi memapah si pemilik pabrik segera bergegas menghampiri dan membantunya.

Wangsa kemudian dipapah menuju ruang kerjanya. Dia beristirahat di sofa di depan meja kerjanya. Tempat di mana dia tidur jika menginap di pabrik itu. Selama beberapa hari setelah itu, Wangsa harus beristirahat dia mengalami demam.

Bertahun-tahun sesudahnya, Wangsa tidak pernah lupa peristiwa itu. Terkadang dia suka menceritakan kejadian yang dialaminya itu kepada orang lain entah dia mencoba untuk menakuti-nakuti lawan bicaranya atau sekadar berbagi pengalaman saja. Hanya dia yang tahu.

kisah ini pernah dimuat di kompasiana dengan judul "Aku Melihat Hantu: Perempuan Berpayung di Pinggir Jalan"

Post a Comment

 
Top