`
Rumah Dinas Gubernur Sulsel Peninggalan Kolonial Yang Megah dan Angker

gmbr atas rumdin setelah direnofasi

Rumah gaya kolonial berdiri megah di jantung Makassar, Sulsel. Halaman terhampar luas dan diteduhkan dengan pohon rindang yang berusia puluhan tahun mempercantik rumah jabatan Gubernur Sulawesi Selatan itu.

Rumah jabatan di Jalan Sam Ratulangi Makassar itu adalah bagian dari cagar budaya dan mempunyai kisah tersendiri di dalamnya. Rumah peninggalan kolonial penjajah Belanda ini juga pernah ditinggali Presiden Sukarno saat berkunjung ke Sulsel.

Sukarno menginap di sebuah kamar yang berada di pojok kiri rumah. Selain Sukarno, hanya Presiden Megawati yang juga pernah menginap di kamar lantai 2 itu.

Dulunya, rumah itu dibangun untuk Ratu Wilhelmina. Beberapa kali dialih,fungsikan menjadi Rumah Jabatan Gubernur Hindia Belanda, Istana Kepresidenan Indonesia Timur, dan terakhir menjadi rumah Jabatan Gubernur Sulsel.

"Dulunya ada None Belanda yang juga tinggal di kamar yang juga pernah ditempati Soekarno saat itu," kata Plt Gubernur Sulsel Soni Sumarsono yang menjadi 'guide khusus' untuk detikcom mengelilingi rumah dinasnya di Makassar akhir pekan lalu.

Rumah jabatan Gubernur Sulsel ini seluas kurang lebih 1.800 meter persegi. Bangunan ini terdiri beberapa ruang utama seperti ruang oval untuk menerima tamu, ruang keluarga, kamar utama, dan dapur.

Baca Uga : 

"Saat pertama kali datang ke rumah ini, perasaan aneh, udaranya panas dan tubuh saya merinding," ujar Soni sambil tertawa.

Apalagi, pada kamar yang pernah diinapi oleh Sukarno juga pernah menjadi tempat tinggal None Belanda di masa kolonial dulu.

Karena merasa tidak nyaman dengan suasana itu, Soni pun akhirnya memilih menginap di hotel untuk beberapa hari saat awal masa tugasnya.

Karena mengetahui Soni menginap di hotel, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo bercerita kepada Soni soal rumah jabatan gubernur yang sedikit angker. Menurut Syahrul kepada Soni, sang None Belanda pernah mendatangi orang-orang yang tinggal di sana lewat mimpi dan meminta dibawakan bunga yang banyak dan berwarna-warni.

Karena mimpi itu, Syahrul memesan 2.000 bunga plastik berwarni-warni dan diletakkan di setiap sudut rumah. Sayangnya, Syahrul salah menafsirkan mimpi itu sehingga Sang None masih kerap mengganggu orang-orang di sana. Bahkan, gangguan dari Sang None Belanda juga hadir lewat sebuah piano tua yang sering berbunyi sendiri di saat tengah malam.

"Ini piano dulunya bunyi sendiri. Sekarang dipindahkan ke tempat lain. Jadi katanya maunya bunga asli bukan bunga plastik. Dulu bahkan ada ajudan yang tidur di kamar, bangun-bangun dia sudah tidur di tangga rumah," sambung Soni.

Kini, khusus kamar Sukarno diberi bunga hidup. Aroma mistik langsung hilang.
Loading...

Post a Comment

 
Top